Cerita ini terinspirasi oleh tulisan Ria Ellwanger, berjudul “Surat Dari Tahun 2070” yang pernah dipublikasikan di majalah ““Crónica de los Tiempos” , edisi bulan April 2002.
“TEEETTT..TEEETTT”
“Minggir kau, lae”
“Sabarlah choy… gak kau tengok belum selesai aku menurunkan sayur-sayur ini”
“Sudah siang ini, nanti keburu rame. Kau pikir ompungmu yang punya jalan ini?”
“Iya. Knapa rupanya….”
Keriuhan aktivitas pagi hari di desa Sipultak, Siborong-borong membangunkan tidurku yang belum lama. Aku terbangun jam 6 pagi di tempat tidur yang beralaskan tikar, dengan tas punggung sebagai bantalku. Aku tidur di sebuah kamar di loteng kantor sahabatku, Lambas Pasaribu, seorang pengusaha jasa photo copy dan video shooting di Siborong-borong. Kamar itu berlantaikan kayu dan hanya berperabotkan sebuah tempat tidur queen size tua yang sudah reot.
Hari itu, Rabu 12 Desember 2007, merupakan hari onan di desa kecil Sipultak, Siborong-borong. Pantas saja ramai sekali pagi-pagi buta begini. Puluhan pedagang sibuk mempersiapkan dagangannya, mengejar waktu sebelum para pelanggan berdatangan.
Aku menuruni tangga kayu curam dan gelap untuk menemui Lambas yang ternyata masih di balik komputernya. Dia masih berkutat dengan pekerjaan yang sama dari semalam, mengedit hasil shooting acara Natal marga Pasaribu yang diadakan awal Desember lalu.
“Belum selesai juga, lae”, sapaku,
“Iya nih. Sikit lagi sih. Hang pula komputerku ini tadi. Habis waktuku 2 jam hanya untuk ngutak-ngutik komputer. Yah, maklumlah, lae, komputer jadul. Yang penting masih bisa buat ngedit. Supaya ada uang skolah si anak-anak”, jawab Lambas memelas.
“Yaudah. Santai aja lae, gak usah terburu-buru. Yang penting selesai pekerjaan itu”
“OK lah, sikit lagi, kok. Siap itu baru kita berger, ya”.
Kami merencanakan pergi ke Samosir pagi ini. Aku sengaja meminta Lambas menemaniku di perjalanan kali ini. Sudah sebulan lebih kuimpikan saat-saat ini, Liburan di Samosir, setelah kerja keras di Jakarta menyelesaikan Mixing dan Mastering TobaDream3. Namun rencana kami meleset beberapa jam karena Lambas tidak dapat menyelesaikan pekerjaannya tepat waktu.
Tidak masalah. Karena bangun pagi-pagi sekali di desa kecil di Bona Pasogit dan melihat kegiatan pasar tradisional yang crowded, lumayan menghibur hati “anak Jakarta” ini. Belum pernah aku melihat hal ini di Jakarta yang mana orang sudah belanja di Carefour atau Hero.
Hutan Oh Hutan
Tepat jam 9 pagi, Kami berangkat ke Samosir. Andy Sianturi, teman Lambas yang juga asal Siborong-borang mengendarai mobil Honda Accord tahun ’90 milik Lambas yang biasa dipakai untuk jasa mengantar pengantin di desa tersebut. Lambas, yang semalaman belum tidur, terkapar di kursi belakang dengan telanjang dada.
Kami melaju ke arah Dolog Sanggul melalui sawah-sawah dan sesekali masuk ke perkampungan kecil. Lumayan bangga aku ketika melihat masih ada beberapa kilometer hutan di kiri dan kanan jalan. Namun pemandangan itu hanya sesekali saja. Malahan ada suatu saat dimana selama setengah jam perjalanan, kami hanya melihat pemandangan mengerikan, pohon-pohon yang telah ditebang habis tanpa ada reboisasi. Ngeri kali lah kupikir orang-orang biadab ini. Hanya uang yang mereka pikirkan tanpa memperhitungkan akibatnya di masa mendatang.
Setelah melalui daerah Humbang Hasundutan, sampailah kami di Tele. Kami berhenti di satu kedai makan sederhana untuk makan siang. Lambas terbangun dari tidurnya dan dengan malas-malasan turun dari mobil untuk masuk ke kedai tersebut. Walaupun tengah hari bolong, namun udara disana sejuk karena kabut yang tebal.
Sambil makan, kami membahas pembabatan hutan di daerah Humbang tadi. Lambas bercerita panjang lebar, bagaimana dia telah menyaksikan pembabatan hutan itu dengan mata kepalanya sendiri; beberapa tahun lalu, semasa dia masih menjadi kontributor salah satu koran Batak Jakarta.
“Ngeri kali, lae. Batang-batang yang masih muda pun di hajar habis orang itu. Memang sih, ada juga usaha mereka menanam kembali. Tapi gak sebrapalah jumlahnya dibandingan total puluhan ribuan hektar yang mereka babat”, cerita Lambas.
“Entah apa kerjanya pemerintah selama ini ya. Kok yang kek-kek gitu gak ditindak”, tanyaku.
“Ya, tau sendiri lah lae. Hanya lima tahun-nya masa penjabatan orang ini, ya minimal cari balik modal dulu lah kan.” Jawab Lambas. Kami pun tertawa mendengar ceritanya itu.
Orang Tua dan Anak Kecil
Sebelum kami melanjutkan perjalanan, aku hendak ke toilet untuk buang air kecil. Tapi karena kulihat toilet kumuh di belakang kedai itu sedang terpakai, maka kuputuskan untuk buang air kecil di pepohonan yang ada di belakang toilet tersebut.
Saat sedang buang air kecil, tiba tiba aku merinding. Seperti ada orang yang berdiri di belakang, tapi nampak siapa-siapa saat aku menoleh. Beberapa detik kemudian perasaan itu datang lagi. Aku menoleh kebelakang lagi, namun hanya ada ilalang dan tumpukan kayu bakar saja.
Wah, udah gak betul ini, pikirku. Cepat-cepat kukancingkan celanaku dan bergegas kembali kedalam kedai. Begitu melewati salah satu pohon, aku kaget setengah mati sampai lututku lemas. Di dekat pohon itu berdiri seorang laki-laki tua dan anak laki-laki berumur sekitar lima tahun. Kedua orang itu tak berambut dan kulitnya pucat sekali. Baju mereka kusam seperti tidak ganti baju selama satu tahun. Anak laki-laki itu memandangku tajam dengan badannya yang kurus kerempeng. Lingkaran matanya agak kehitaman dan terdapat banyak bercak merah di tangannya.
Seumur-umur aku belum pernah melihat hantu. Karena kupikir itu adalah hantu, maka aku bermaksud lari namun terjatuh lantaran tersandung gundukan kayu bakar, yang kemudian berantakan berserak. Si orang tua itu berlari kearahku dan menyodorkan tangannya. Aku sempat berteriak ketakutan. Tapi orang tua itu cepat-cepat memohon, “Tolong jangan berteriak, Ompung. Saya saya hanya mau menolong Ompung.” Kata orang tua tersebut. Dia menarik tangan saya sehingga saya dapat berdiri lagi.
Oh, leganya aku ternyata mereka manusia, bukan hantu. Tapi memang rupa mereka sangat mengerikan. Seperti orang yang terkena penyakit mematikan. Aku sempat berpikir apakah mereka ini terkena AIDS dan dikucilkan orang-orang sekitar. Pikiran itu terus terang membuatku agak jijik karena telah bersentuhan tangan dengan mereka.
Kulihat anak kecil itu agak nyengir seolah melihat kejadian lucu. “Terima kasih, Ompung”, jawabku.
“Jangan panggil aku ompung, pung” kata orang tua itu.
“Lho, kok ompung jadi panggil aku ompung. Aku kan masih muda.” selakku penasaran, “Apa marga Ompung”
“Aku marga Sianipar”, kata orang itu.
Walaupun agak tidak mungkin namun aku menebak saja, “Oh, anda pasti Sianipar nomor 17, makanya panggil aku Ompung. Anda sudah tau kalau aku nomor 15. Ya kan?”
“Bukan, pung. Aku gak tau Sianipar nomor berapa. Karena dijamanku jarang orang bertanya itu.” Jelas orang tua itu.
“Lho, bukannya orang-orang tua di jaman anda masih kental beradat?” tanyaku.
Namun orang tua itu tidak menggubris pertanyaanku karena sibuk menarik anaknya yang tengah mengetuk-ngetuk pohon dan mengejar anak ayam yang berkeliaran di belakang kedai. Dia memarahi anak itu dengan bahasa yang sedikit aneh untuk orang tua yang hidup di Bona Pasogit. Tata bahasa Indonesianya agak janggal di kupingku. Banyak penyingkatan kata dan ada beberapa kata yang aku tidak mengerti. Setelah anak itu diam lagi, orang tua itu bertanya lagi. “Kalau ompung Mat.. eh maksudku Matthew anak ompung itu nomor berapa?”
Aku tidak terlalu heran kalau ada orang tahu nama anakku. Mungkin mereka pernah baca Koran atau lihat blog di internet.
Anak kecil itu menyelak pembicaraan, “orang itu kan yang ada di fotonya papi yang digantung dikamar, kan. Ya kan, Pi?”
“Sssst.. nanti dulu, bang” jawab orang tua itu sambil menutup mulut anak kecil itu”
“Si Matthew ya nomor 16 lah, knapa rupaya?”, lanjutku.
Orang tua itu berpikir beberapa saat, “Kalau gitu aku Sianipar nomor 18 dan anakku ini”, sambil menggendong anak kecil yang asik bermain menyusun kayu bakar seakan-akan barang langka,”berarti nomor 19 lah.”
Haah. Aku terkejut. Masak ada orang setua ini ngaku Sianipar nomor 18. Berarti aku ini buyutnya. Seingatku kalau pergi ke Bona Taon Sianipar gak pernah kudapati nomor 18. Paling mentok nomer 17. Itu juga pasti masih bayi lah. Ngawur nih orang. Aku sudah berperasaan tidak enak. Ini pasti orang gila, pikirku.
“Ah, gak mungkin lah, mana ada hari gini Sianipar nomer 18. Sudah lah ya, aku mau jalan nih”, kataku mulai jengkel sambil mundur beberapa langkah dan berbalik badan, hendak kembali ke dalam kedai.
“Jangan ngaco ah, Ompung. Sekarang masih tahun 2007, emangnya Ompung ini hidup tahun 2080?” ejekku.
Kemudian orang itu menjawab dengan suara yang agak berat dan lambat, “Bukan 2080, pung. Tapi tahun 110, ehm.. maksudku, 2110. Saya datang dari masa itu.”
Mendadak aku berhenti di depan pintu belakang kedai. Aku berbalik belakang dan keheranan. Kemudian orang tua itu melanjutkan, “Namaku Yosua, Pung. Dan ini anakku, John Williams. Yang memberi namanya”, sambil mencium anak kecil itu,”Ompungku, Ompung Matthew. Katanya diambil dari nama komposer terkenal idola bapaknya, yaitu Ompung Viky. Ompung”, sambil menjulurkan jempol kanannya kearahku. Diakhir kata-katanya itu mengalirlah air mata ke pipinya yang kriput.
Aku seakan tersambar petir mendengarnya. Melihat ekspresi orang itu dengan kepala anaknya yang dilendotkan ke lehernya, aku tertegun. Mukanya betul-betul memelas seakan mengharapkan belas kasihan. Tidak ada sedikitpun kulihat aura membual. Wajahnya benar-benar tulus penuh pengharapan.
“Aku datang mencari Ompung untuk minta tolong. Tolonglah kami, pung”, katanya sambil menangis terisak-isak. Kemudian orang tua itu memeluk anaknya erat-erat sambil menangis, merintih-rintih.
Lambas dan Andy datang menghampiriku sambil berkata, “Ai lama kali kau kencing, pren. Jadi gak kit..”, percakapannya terhenti melihat ada orang tua menangis sambil memeluk anaknya.”
“Iyah.. kenapa dia, Vik?”, Tanya Lambas, “Kau apain Ompung-opung ini?”
“Dia cicitku. Dan itu anaknya”, jelasku,
“Haaah… lha.. kok.. ai apa-apaan sih”
“Itu katanya, aku pun lagi bingung nih.”
Perjalanan Waktu
Kemudian orang itu menurunkan anaknya dan berkata, “Pung, mohon ikut aku sebentar. Aku tunjukan sesuatu biar opung percaya”.
Karena kasihan, aku pun menuruti permintaannya. Lambas dan Andy pun mengikutiku di belakang.
Orang tua yang bernama Yosua itu menuntun kami masuk kedalam hutan pinus menerobos semak-semak sampai kira-kira 200 meter. Kemudian terlihatlah lapangan kecil yang kelihatannya habis terbakar dengan sebuah benda aneh di tengah-tengahnya. Semacam mobil aneh dari kaleng tua berbentuk piramida tanpa roda. Sekilas terkesan seperti pesawat luar angkasa yang baru mendarat.
Sungguh pemandangan aneh. Di kampung Tano Batak dengan benda futuristik semacam percobaaan sains orang kota. Lambas, Andy dan aku ternganga tidak berkedip melihat benda aneh itu.
Yosua mulai menjelaskan dengan hati-hati, “Pung, cicitmu ini seorang professor yang bekerja di pusat penelitian rahasia di Perancis. Kami bekerja siang malam sampai akhirnya berhasil memecahkan teori Einstein tentang perjalanan waktu. Akhirnya Perancis bisa mengalahkan Amerika dalam hal teknologi. Gara-gara ini meletuslah perang antara Amerika dan Perancis. Ini adalah perjalanan waktu pertama manusia, yang akhirnya kami berani untuk melakukannya karena terpaksa, demi kelangsungan hidup manusia.”
Kami bertiga masih terbingung-bingung. Namun tetap menyimak perkataan Yosua.
Aku mulai bertanya,”J..ja..jadi Ompung, eh anda bener-bener datang dari masa depan?”
“Iya, pung”
“Ja..jadi kau benar-benar pahompuku do?”
“Apa itu papop..apa? papoku?”
Tanpa tunggu pertanyaan bodoh itu selesai, aku memeluk opung-opung botak itu yang ternyata adalah cicitku. Kemudian menggendong anak kecil botak aneh itu dan mulai melontarkan pertanyaan anak-anak standard padanya.
“Ompung. Kalau boleh kita bicara ditempat lain yang lebih aman. Aku takut ada yang lihat. Sangat berbahaya, pung. Nantilah aku jelaskan.”
Aku menyetujuinya. Yosua menekan sesuatu di pinggangnya dan mengakibatkan pemandangan lapangan itu seperti berair dan sekejap berubah menjadi hutan yang lebat. “Ttu hanya ilusi hologram, pung, untuk menipu mata orang. Di jaman kami hal ini sudah sangat biasa dan jadi mainan anak-anak”, jelas Yosua. Kemudian dia menggendong anaknya dan berjalan mengikuti kami kembali ke kedai makan.
Danau Toba Yang Indah
Aku memutuskan untuk pergi ke menara peratapan di Tele. Mereka menyetujuinya karena daerah itu sepi dan sangat pas untuk ngobrol serius. Honda Accordnya Lambas jadi terasa sempit dengan tambahan dua orang. Kami melaju ke persimpangan jalan, masuk ke jalan arah Samosir.
Di dalam mobil, Yosua terkagum-kagum pada mobil Lambas, “Waw, selama ini aku hanya boleh tengok di gambar-gambar antik milik orang-orang tua, sekarang aku bisa naik mobil jaman dulu ini, eh maksudku jaman sekarang. Ternyata sedopbob ya.”
“Sedobob?”, tanyaku
“Oh, itu bahasa gaul anak muda di jamanku, pung, maksudnya nikmaaaat betul. Di jamanku bahasanya begitu. Bahasa Opung Viky ini pun kadang-kadang aku gak ngerti. Bahasa Indonesia kuno ya, pung?”
“Gak juga kaleee..hehehe.. oke deeeh!”
“maksud opung?”
Lambas, Andy dan Aku tertawa terbahak-bahak. Satu bahasa dengan dua dealek berbeda jadi gak nyambung karena perbedaan jaman 100 tahun lebih.
Di pertengahan jalan turun di Tele, kabut sudah mulai menipis. Sehingga nampaklah keindahan alam Danau Toba yang luar biasa dari ketinggian. Yosua tampak tercengang melihat Danau Toba dari atas bukit Tele. Benar-benar dia tidak berkata-kata sedikitpun memandangi setiap sudut alam ciptaan Yang Maha Kuasa itu.
Aku penasaran, “Kok kamu terheran-heran gitu. Memangnya belum pernah ke Danau Toba”
“Sudah, waktu aku remaja. Dibawa Abangku. Namun tidak seindah ini.”
“Lho, ada apa. Alam ini kan akan begini terus sampai kapanpun”
Yosua menoleh kearahku dengan wajah pucat. Dia menggeleng. Dengan perlahan dan ekspresi sedih dia mengatakan, “tidak, pung. Dijamanku, Danau Toba sudah tidak ada”.
Kami semua tersentak dan terdiam.
Bencana Dunia
Mobil Honda Accord Lambas memasuki pelataran parkir obyek wisata Menara Ratapan Tele. Kami duduk di kedai kopi kecil–satu-satunya yang ada di sana, dan memesan kopi.
“Yos, kau mau minum apa?”, tanyaku, “Kopi atau teh”
Yosua melihatku keheranan, “Di jaman ini masih ada kopi ya. Waw. Hebat! Trimokosaih. Kalau tidak merepotkan aku minta air putih.”
“Ya tidak lah, kalau cuma air putih aja, mah…kau pun kaya orang Sunda aja, sopan kali”
“Oh, orang Sunda itu dulu gitu ya, pung. Sopan-sopan ya. Berarti Mama gak bohong ya”
“Lho kenapa, di jamanmu gak ada orang Sunda”, tanyaku penasaran,
“Semua ras ada, pung. Tapi kan kami semua sudah pindah ke Eropa sejak bencana itu. Jadi sudah tidak kelihatan lagi aslinya seperti apa. Buat kami semua suku asal Indonesia itu sama saja sifatnya.”
“Oh, begitu”, aku terheran-heran.
Inang-inang di kedai itu datang membawa pesanan kami. Yosua kembali terheran-heran melihat botol Aqua ukuran kecil, “Wah banyak sekali, pung, air putihnya, bagemana aku habisi semua?”
“Lha cuman satu botol gini kok banyak?”
“Oh.. aku ngerti”, kata Yosua
Lho?? Sungguh membingungkan. Apakah di jamannya Yosua keadaan begitu aneh. “Berapa umurmu sekarang, Yosua?” tanyaku
“40 tahun, Ompung. Aku sudah tua sekali. Sudah cape sebenarnya melakukan perjalanan ini?”
“Hah, kau masih 40 tapi sudah keriput gini. Memangnya dijamanmu manusia hidup rata-rata sampai umur berapa?”
“35 sampai 40 tahun, pung”, jawab Yosua
Lambas, Andy dan aku langsung tersedak kaget. “Berarti kau sudah tua kali lah ya..”, kata Andy.
“Ya, memang, Ompung Andy. Namun aku sudah ditakdirkan untuk menjalankan misi ini. Aku harus kuat demi kelangsungan hidup umat manusia.”
“Apa yang terjadi sebenarnya ? Aku bener-bener bingung, nih”, tanya Lambas.
Suasana menjadi hening. Terdengar musik sayup-sayup di kedai itu lagu “Mauliate” yang sempat membuyarkan suasana. Rupanya inang-inang tau merekon aku Viky Sianipar yang mampir minum kopi ke kedainya. Inang itu langsung memutar kaset album Nommensen-nya Tongam Sirait untuk cari perhatian. Namun tidak tergubris sama sekali oleh perhatianku.
Beberapa saat kemudian Yosua mulai berbicara, “Baiklah, sebaiknya aku mulai ceritakan saja semuanya”
Yosua mengambil nafas panjang, yang menurutku termasuk pendek, sambil memandangi alam Danau Toba yang indah. Terlihat matanya berair menahan tangis.
Setelah beberapa menit Yosua memulai ceritanya, “Aku pernah ke tempat ini, pung. Dua puluh lima tahun lalu, eh maksudku tahun 2085. Aku tidak akan lupa kejadian itu. Aku terbang ke sini pakai mobil bersama almarhum abangku, Moses, untuk mencari jenasah Papa.”
“Ada kejadian apa rupanya pada tahun itu? Apa yang terjadi dengan cucuku?”, tanyaku cemas.
“Ceritanya begini. Sekitar tahun 2050an banyak sekali bencana di pulau Sumatera ini. Gempa, Longsor, tsunami…”
“Ya, tsunami Aceh itu baru terjadi beberapa tahun yang lalu”, potongku,
“Itu hanya tsunami yang pertama, pung. Sejak tsunami Aceh itu ada terhitung 8 kali tsunami lagi yang lebih parah sampai tahun 2050an. Namun keluarga kita semua tidak ada yang menjadi korban. Karena Jakarta tetap aman, walaupun setengah Jakarta sudah menjadi lautan karena Global Warming diawal tahun 2000an.”
“Berarti Sekarang, dong?” tanyaku,
“Betul!”, kata Yosua sambil menyuapi anaknya air putih dengan sendok teh, “ Di tahun 50an sekitar danau ini adalah gurun yang sangat luas. Itu berdasarkan foto-foto yang pernah kulihat, karena pada masa itu aku belum lahir. Banyak orang Indonesia yang mulai hijrah ke Eropa dan Cina, karena tidak tahan dengan panas udara tropis di masa itu.
Gurun itu terbentuk akibat kurangnya curah hujan di Sumatera.Menurut pelajaran history di sekolah, curah hujan menurun di masa itu akibat penebangan hutan dan perkebunan homogenic seperti karet dan kelapa sawit. Nah, akibat iklim yang panas dan gempa berkelanjutan, air Danau Toba pada saat itu terus berkurang hingga mencapai 500 meter pada tahun 60an. Hal ini memicu magma dibawahnya yang pernah aktif dan meledak 75.000 tahun yang lalu jadi ganas. Tingkat keasaman air Danau Toba semakin tahun semakin tinggi. Pemerintah Indonesia pada saat itu sedang kacau-kacaunya. Mencapai tingkat korupsi tertinggi sepanjang sejarah Dunia. Mereka tidak ada yang memperhatikan hal itu.”
“Siapa presiden kita pada masa itu?”, Tanya Andy penasaran. Aku pun ingin tahu jawabannya.
“Maaf, Pung”, jawab Yosua, “Aku dilarang oleh pimpinan saya untuk memberitahukan informasi apapun yang terjadi di masa mendatang kecuali yang berhubungan dengan misi perjalanan ini. Karena ditakutkan akan merubah sejarah kearah yang lebih buruk”
“Baiklah, aku ngerti”, kataku, mengingat aku pernah nonton film Back To The Future. Jadinya aku mengerti betul akibat yang dimaksud, “Lanjut!”
Yosua pun melanjutkan ceritanya, “Keadaan yang mengerikan di daerah tropis itu sangat mempengaruhi iklim dunia keseluruhan. Indonesia dikecam UN sebagai salah satu Negara penyebab Global Warming akibat pembabatan hutan dan Green House. Curah hujan dunia secara keseluruhan berkurang sangat drastis. Sehingga dalam waktu beberapa tahun saja seperempat hutan hijau di bumi ini layu dan mati akibat kekurangan air. Air menjadi sangat langka. Jerih payah Amerika mengejar minyak sia-sia karena ternyata ada yang hal yang lebih penting dan menjadi langka. Air. Semakin hari persediaan air semakin berkurang jauh. Hampir 80% sungai dan danau di bumi ini mengering. Mengerikan sekali.”
Yosua menarik nafas lagi. Terlihat dia keletihan sekali. Di usianya yang sangat uzur, untuk ukuran di jamannya, nampak dia berusaha sekuat tenaga menjalankan misi perjalanannya. Beberapa kali Yosua batuk, dan minum beberapa sendok air putih.
Kemudian Yosua melanjutkan ceritanya, “Bencana yang ditakutkan dunia pun terjadi. Magma di bawah Danau Toba memanas drastis sehingga mengaktifkan gunung-gunung disekitarnya. Maka, pada tahun 2085 bulan Oktober, meletuslah 9 gunung di daerah ini secara bersamaan dan mengakibatkan ledakan dahsyat di seluruh perairan Danau Toba. Ledakan itu sangat mengerikan sehingga menyelimuti langit diatasnya menjadi gelap selama beberapa hari. Pulau Samosir lenyap seketika. Ledakan itu mengakibatkan tsunami dimana-mana di seluruh Asia Tenggara. Indonesia Barat dan Tengah, Singapore, Malaysia, Thailand dan sebagian India habis hancur lebur. Puluhan juta orang meninggal waktu itu. Hanya sedikit orang Batak di daerah ini yang selamat. Semuanya habis tertimbun lava dan debu, termasuk Papa dan Mama.Pada saat ledakan itu terjadi, papa dan mama sedang berada di Samosir untuk mendata makam leluhurnya yang masih tersisa akibat ambles dimakan pasir”
Yosua termenung dan meneteskan air mata. Setelah satu menit, dia melanjutkan, “Satu minggu setelah ledakan itu Bang Moses memaksaku ikut dengannya untuk mencari jenasah Papa dan Mama. Padahal aku tahu usaha itu akan sia-sia. Namun abang maksa. Karena dialah yang sangat terpukul karena ditinggal Papa dan Mama. Kami nekat terbang dari Jakarta ke Danau Toba dengan mobil terbaiknya, walau pemerintah melarang warga mendekat areal Danau Toba karena diduga ada gas beracun akibat ledakan. Setibanya kami disini, isu gas beracun itu tidak benar. Kami berhenti di atas bukit itu”, Yosua menunjuk ke bukit Tele tempat kami bertemu tadi, “melihat pemandangan mengerikan kearah bawah. Saat itu jam 12 siang tapi visibility hanya 500 meter. Sinar matahari masih agak terhalang kabut hitam samar-samar. Kadang-kadang terang, kadang-kadang gelap lagi. Saya melihat jurang kawah raksasa bekas Danau Toba ini yang sangat dalam. Dikedalaman terlihat warna merah menyala yang kukira itu adalah magma yang terus mengalir di bawah. Pada saat itu abangku hanya bisa nangis setelah menyadari maksud kedatangannya tidak mungkin terlaksana. Jasad seluruh manusia yang mati disini pasti sudah hancur beribu-ribu keeping dan meleleh karena terkena lahar panas. Kami tidak lama diatas sana karena panas yang luar biasa. Kondisi mobil Bang Moses sudah semakin parah karena heat shield-nya sudah bocor akibat suhu diatas batas maksimum. Dengan susah payah dia menerbangkan mobilnya dengan kecepatan full, namun tidak dapat membawa kami kembali ke Jakarta. Mobil itu hanya sanggup membawa kami ke Padang. Kemudian kami meneruskan perjalanan pulang menumpang pesawat militer yang mendistribusikan bantuan kepada korban tsunami.”
Yosua berdiri keluar kedai dan memandangi alam Danau Toba masa kini yang sangat indah. Kami semua mengikutinya dari belakang. Yosua tersenyum sambil melihat kebawah, kearah desa Harian Boho dan berkata, “I can’t believe this view. Inilah Lake Toba yang mengerikan itu.”
“Bah, kok mengerikan?” protes Lambas.
“Ya, mengerikan di jamanku. Sepuluh tahun setelah ledakan itu tempat ini dibeli Amerika dan dijadikan Penjara terbesar di dunia. Namanya Lake Toba Prison, tempat pembuangan tahanan-tahanan terbesar dunia. Penjara Danau Toba adalah tempat yang paling ditakuti oleh semua penjahat dunia. Jangan sampai mereka masuk tempat ini. Karena pasti berakhir dengan siksaan seumur hidup sampai mati. Dengan cara itu Amerika dapat mengurangi tingkat kriminalitas di dunia ini. Begitulah di jamanku. Tapi ternyata dulunya penjara itu adalah sebuah alam Maha Karya Tuhan yang Agung yang indahnya luar biasa. My Godness.”
Air Yang Langka
“Kenapa kalian kok pada botak-botak gini?”, tanyaku.”Apa semua orang di tahun 2110 botak?”
“Ya, Ompung. Kami harus mencukur rambut kami untuk membersihkan kepala tanpa harus menggunakan air.”
“Lho, kalian gak pernah keramas lagi rupanya”
“Hahaha, sudah lama aku gak denger kata-kata itu. Keramas. Terakhir aku keramas umur 10 tahun.”
“Ada pada rupanya”, tanyaku keheranan.
“Sejak aku remaja air sudah mulai langka. Hingga tahun 2100 kami tidak pernah merasakan hujan lagi. Kalaupun hujan, itu adalah hujan air asam yang merupakan bencana bagi kami. Air putih sangat langka. Sampai-sampai, kami bekerja hanya dibayar dengan segelas air putih. Namun lama-lama manusia terbiasa hanya minum setengah gelas air putih setiap harinya. Tingkat kematian di jamanku tinggi akibat penyakit kekurangan cairan, infeksi saluran pencernaan dan permasalahan kandung kemih karena kurang minum air. Jadi air hanya kami pakai untuk minum. Tidak mungkin ada orang berenang, mandi, cuci mobil pakai air. Pakaian yang kami kenakan hanya sekali pakai, karena tidak mungkin bagi kami untuk mencuci pakaian. Hal ini menyebabkan jumlah sampah dunia meningkat pesat. Pencemaran lingkungan dimana-mana. Pengangguran meningkat dengan angka yang sangat drastis. Si John anakku ini, tidak mungkin percaya kalau kuceritakan masa kecilku, bahwa bapakku cuci mobil pakai air dengan menyemprotkan langsung dari ledeng. Dia tidak bisa membayangkan aku waktu playgroup pernah berenang di bak mandi di rumah teman Opung Matthew di Kanada. Hal itu tidak masuk di akalnya”.
Yosua menyiramkan botol aqua itu ke mukanya, “Akhirnya aku dapat merasakan ini”. John Williams memandang bapaknya dengan aneh, dan tertawa terbahak-bahak seolah itu adalah hal yang aneh.
“80% makanan kami sintetis”, lanjut Yosua, “kami buang air di septic tank karena tidak ada air untuk flush closet. Manusia di jaman kami kelihatan menyedihkan: tubuh sangat lemah; kulit pecah-pecah akibat dehidrasi; ada banyak koreng dan luka akibat banyak terpapar sinar matahari karena lapisan ozon dan atmosfir bumi semakin habis. Karena keringnya kulit, perempuan berusia 20 tahun kelihatan seperti telah berumur 40 tahun. Para ilmuwan telah melakukan berbagai investigasi dan penelitian, tetapi tidak menemukan jalan keluar.
Manusia tidak bisa membuat air. Sedikitnya jumlah pepohonan dan tumbuhan hijau membuat ketersediaan oksigen sangat berkurang, yang membuat turunnya kemampuan intelegensi anak-anak generasi si John ini”, sambil mengelus kepala anaknya.
Yosua melanjutkan dengan nada semakin keras dan emosi, “Morphology manusia mengalami perubahan, yang menghasilkan anak-anak dengan berbagai masalah defisiensi, mutasi, dan malformasi seperti yang dialami si John ini. Pemerintah bahkan membuat pajak atas udara yang kami hirup 137 m3 per orang per hari atau 31,102 galon. Bagi siapa yang tidak bisa membayar pajak ini akan dikeluarkan dari “kawasan ventilasi” yang dilengkapi dengan peralatan paru-paru mekanik raksasa bertenaga surya yang menyuplai oksigen. Udara yang tersedia di dalam “kawasan ventilasi” tidak berkulitas baik, tetapi setidaknya menyediakan oksigen untuk bernafas. Beberapa negara yang masih memiliki pulau bervegetasi mempunyai sumber air sendiri. Kawasan ini dijaga dengan ketat oleh pasukan bersenjata. Apakah ini yang namanya HIDUP YANG LAYAK??”
Yosua terjatuh berlutut sambil menangis, “anak-anak kami tidak mungkin lagi memiliki tingkat intelegensi yang lebih tinggi dari kami karena mereka akan selamanya kekurangan gizi dan air. Inilah sebabnya aku mendedikasikan hidupku memecahkan teori Einstein bertahun-tahun untuk menciptakan mesin waktu. Karena satu-satunya cara menyelamatkan alam ini adalah kembali ke masa lalu dan menceritakan kondisi ini ke para leluhur kami, dan memberitahu mereka kalau KAMI ADALAH KORBAN DARI ULAH KALIAN. KEPARAAT!!!”, Yosua berteriak keras sambil menunduk. John Williams memandangi bapaknya ketakutan.
“WHY??? Kenapa kalian habisi air itu… kenapa tidak kalian rawat alam ini? Alam ini juga merupakan milik kami. Kami juga berhak menikmatinya. Adalah juga milik kami yang kalian habisi. KALIAN HANYA MEMINJAM, TAU!!”
Yosua terjatuh sampai posisi meringkul di rumput hijau sambil terisak-isak. John Williams menghampirinya dan ikut menangis, “Papa.. papa kenapa? Siapa yang nakal? Papa… John takut.. huu..huu”, John memeluk ayahnya dengan sedih.
Terdengar sayup-sayup musik dari dalam kedai. Rupanya kaset Tongam yang dipasang inang-inang itu tadi sudah sampai kepada lagu “Tapature ma Hutanta”. Hal ini menambah khusuknya suasana dan membuat hatiku hancur dan ikut menangis bersama mereka namun tetap tidak bergerak dari posisiku.
Dengan sisa-sisa tenaganya, Yosua mengambil seseuatu dari kantong celananya. Rupanya semacam alat menyerupai jarum suntuk. Kemudian dia menancapkan jarum suntik tersebut ke Jantungnya. Beberapa detik kemudian Yosua dapat bergerak lagi. Ia duduk di tempat dan merangkak ke arahku sambil berposisi menyembah di kakiku. Dengan suara memelas ia berkata, “Ompung Viky, tolong selamatkan kami, beri tahu pada orang-orang di jaman ini untuk berbuat sesuatu demi nyawa anak-anak kami, dan demi kelangsungan hidup umat manusia.”
Aku tak tahan melihatnya dan berlutut dan memegang kedua pipinya yang dingin pucat. Kupandang matanya yang merah berair dan bengkak itu kemudian berkata, “Baiklah nak. Aku akan melakukan sesuatu. Aku janji. Demi kalian para cucu, cicitku dan demi umat manusia.”
Yosua tersenyum. Bergerak mengucap kata terima kasih, namun tidak terdengar karena terlalu lemah suaranya.
Setelah mengambil nafas beberapa kali Yosua sanggup berbicara lagi, “Ompung, se..sebenar..ny.nya, perjalanan waktu ini belum se-se.. seratus persen am..aman. Namun aku neka..ugh..ugh… nekat melakukannya un..untuk sam..phhai-kan pesan ini”. Yosua kembali menusukan Jantungnya dengan jarum suntuk tadi dan membuatnya kembali agak lancar berbicara.
“Perjalanan waktu merubah badan manusia jadi energi dan kembali ke posisi awal setelah sampai ke tujuan, namun hal ini meng… ugh..ugh.. mengakibatkan fungsi jantung melemah dan penyempitan pembuluh darah akibat perubahan bentuk energi yang drastis. Ugh..ugh..”, Yosua terus terbatuk-batuk, “Hal itu bikin manusianya hanya dapat bertahan 3 jam hidup se .. setibanya d.. d.. di tu..ju.. jhhuan”, Yosua terjatuh terlentang, begitu juga dengan John Williams.
Kami bertiga panik. Aku langsung menadah kepala Yosua ke pangkuanku. Lambas memangku kepala John.
“W..wak..tuku sudah hab..is. Inni..” Joshua memberikan alat jarum itu ke tanganku, “ini.. t..tus..tusukkan ke kep..pala kami, se..tt.eelah.. kami… mati….ugh..hhh………. Mm.aa..u……li…..atthhee… Omph…….ouunngg …”. Yosua dan John Williams pun menghembuskan nafas terakhirnya dan tidak bergerak lagi, seiring dengan berakhirnya lagu “Tapature ma Hutanta” yang terdengar sayup-sayup di kejauhan.
Aku merintih karena sakit hatiku. Tak henti-henti aku menangis sambil memeluk Yosua dan John Williams di tengah-tengah alam Tele, Tano Batak yang megah.
Lambas melakukan apa yang diminta Yosua karena aku tak tega melakukannya. Beberapa menit setelah Lambas menusukkan jarum itu ke kepala mereka, Jenazah Yosua dan John Williams berubah perlahan-lahan melembek sampai menjadi debu. Debunya terbang seakan menari-nari terhembus oleh angin yang membawa mereka terbang. Entah kebetulan atau karena memang arah angin pada saat itu, debu yang beterbangan itu terbang terbawa angin kearah puncak Pusuk Buhit sampai tak terlihat lagi.
Sambil menagis aku lari seakan mencoba mengejar mereka menaiki Menara Ratapan dan hanya bisa memandanginya dari atas menara tersebut.
Aku tidak menyangka dampak perusakan lingkungan begitu hebatnya di masa mendatang. Sehingga anak-cucukulah yang akan menjadi korban ulah kita. Aku telah menyadarinya sekarang. Aku berjanji pada diriku untuk berusaha sekuat tenaga menghindari hal-hal mengerikan itu menimpa keturunanku. Mumpung masih ada waktu.
Aku teringat selalu kata-kata Yosua bahwa janganlah kita merusak sesuatu yang bukan milik kita, karena ALAM INI KITA PINJAM DARI ANAK CUCU KITA.
yang seriusnya cerita ini lae ?
jadi apalah yang harus kita lakukan…?
VIKY:
Ini Science Fiction, Lae. Berdasarkan reset ramalan 100 tahun kedepan jika pembabatan hutan terus berjalan. Kelalaian kita ini akan menyiksa anak cucu kita kelak.
Apa yang harus kita lakukan? SAVE OUR CHILDREN BY RE-GROWING THE TREES!!
hahaaaaa….
lumayan la kl cm utk fiksi bro..
tp agak seram kl q liat cerita itu kl emg di ilhami dr tulisan Ria Ellwanger berjudul “Surat Dari Tahun 2070” yang pernah dipublikasikan di majalah ““Crónica de los Tiempos” pada bulan April 2002.
q jg punya video itu dr tahun 2002 lalu.
kebetulan q tergabung dengan organisasi yg mengkopi itu secara massal di indonesia tp hanya utk kalangan terbatas..
selebihnya nice try la
Sai unang ma masa songon caritami ate …
Beta tapature. Parsidohot ma ahu disi.
Dohot do ahu mulak tu huta, manuan hau.
merinding…. baca nya…sama kek waktu ku baca surat dr 2070 itu… seraaammm…..
skrang orang2 lebih cenderung tanam anthurium dr pd tanam pohon…:) harusya gerakan reboisasi hutan kembali di galakkan kek waktu jaman orba itu yahh…
to… aku join yah dalam gerakan TDCP itu…
horas
VIKY:
OK. nama dan email anda sdh di masukan ke Contributor List TCP. Tinggal tunggu aja email dari kami.
Mauliate!
Aku pernah diajak teman bule orang Inggris untuk menjalankan gerakan TobaWorld yg misinya melestarikan budaya Toba dan danau Toba, tapi gerakan itu kandas di tengah jalan, guess what, lha wong cuma kami berdua aja yg jadi anggotanya
Orang lain tak pernah tertarik…msh banyak (baca= semua) orang berprinsip ‘no money no action’, so what we’re gonna do lae Sianipar?
VIKY:
What you have to do is, take your money out of your pocket Rp. 30.000 per tree, give it to me. Molo boi, laho ma hamu to Samosir tanggal 3 bulan 3 dohot nami. Tapature ma huta ta. Horas!
horas lae, apa kabar?
Suatu cerita yang menarik dan mengesankan…Saya harap semoga semua masyarakat menyadarinya.
SAVE THE WATER SAVE THE EARTH AND SAVE THE WORLD
SAVE THE WATER SAVE THE MONEY
Cucuku Viky, aku teman seperjuangan ompungmu yang nomor 10. Saat ini kami sedang berjuang mangalo sibontarmata. Disaat saat pertempuran sidikit mereda, kami mencoba menerapkan ilmu hadatuon yang kami miliki untuk mencoba melihat jauh ke depan, kira kira bagaimana nanti keadaan bangso Batak yang sedang kami perjuangkan ini.
Ketika aku memperlihatkan hasil ramalanku sama ompungmu, bahwa akan ada saatnya hutan yang kita miliki ini akan dibabat habis, mulai dari Hutagalung sampai Gunung Leuser, ompungmu tidak percaya. Baru setelah aku tunjukkan sama ompungmu sepucuk surat dari 2070, dan satu lagi Please Help Me, Ompung!, ompungmu terperangah, semagatnya kendor seketika. Kalau memang akan begini jadinya, untuk apa kita berjuang mati-matian mengusir sibontarmata i?
Jangan putus asa dulu lae, kataku sedikit memberi semangat. Lihat ini, di daftarku ada nama nama yang akan memperjuangkan agar jangan sampai terjadi hal itu. Menurut data yang ada di unte pangir hon, usaha itu akan semakin gencar di awal millenium ke-tiga. Walau kami sama sama tidak mengerti apa itu arti millinium ke-tiga, kami senang.
Lihat ini lae, salah satu dari mereka ada dongan sabutuham. Hah? Marga Sianipar? Tanyanya penasaran. Iya, jawabku. Nomornyapun tertera dengan jelas. Nomor berapa? 15 jawabku.
Kalau begitu, mari kita buat surat untuknya, agar mereka benar benar berjuang mempertahankan kelestarian hutan kita ini. Unang holan “H”. Tulislah lae, tulislah untuk cucumu itu. Ucapkan terimakasih.
“Terimakasih Cucuku Viky, berjuanglah”
Semoga surat ompungmu ini, yang kukirimkan melalui pahabang losung, dapat ditangkap oleh mainanmu yang empat segi itu, yang bila kuliahat di unte pangir ini namanya dituliskan “Komputer”
VIKY:
Horas, Opmung… sai huingot be tonamuna. berjuang toros be ahu. nyawaku pe hupertaruhkan demi Bangso Batak jala alam Bona Pasogit nauli i. Asa tongtong tio jala denggan do Tao Toba i. Alai bantumuna ma jolo martonggo tu Debata di Banua Ginjang. Asa dibuat Debata hagogogoon jala hasangapon ma ahu. Jala sai ditudu Debata dalani aka perantau na bisukki, asa tersentuh ate-ate nasida tu rapita martapature huta ta… Mauliate Godang, Ompung
Cerita fiksi yg incredible walau agak seram dan agak “berlebih lebihan” menurutku
tapi merupakan salah satu cara yang kratif dalam mengajak pembaca melihat dunia dari sudut pandang lain selain diri sendiri. Tulisan ini cocok sekali di forward kepada penguasa-penguasa bangsa kita sekarang, terlebih penguasa yanga ada di bona pasogit sana. Asa mabiar nasida.. unang pamongkus hu ateh.. Unang pola sampe ro pahompu ta san FUTURE manonggaki hita… “Sotung raja nami”
Horas bah…
VIKY:
Mauliate, lae. Ai par penulis amatir pe au.. hehehe. Holan malului cara be au asa angka penguasa i sadar aha do akibat ulaon ni nasida tu angka pahompu ta.
Wow, Lae Piki.. Tulisannya sangat menginspirasi..
Aduh, aku telat baru taunya kegiatan teman2..
Aku pengen ikutan kampanye teman-teman buat yang ke depannya..
Kalo ada waktu, ayo ke hutan batang toru di selatan toba, tempat terakhir orangutan Sumatera di tanah Batak..
Mauliate..
VIKY:
Gak masalah, lae… masih banyak program kita kedepannya. For more info, pls check out http://www.tobadream.org
Ito, songon dia do carana bergabung di gerakan reboisasi Toba i?? daftarhon ma jolo ahu. Bootima. Mauliate.
VIKY:
Gak pake daftar-daftaran, ito.. kaya kuliah aja.
Ito tinggal transfer aja uang ke rekening yang tertera di sini. Mau 10 pohon, 100 pohon atau bahkan 1 pohon pun boleh. Satu pohon saja sudah sangat berarti buat alam Danau Toba dan sekitarnya. Segala kegiatan sosial TobaDream dapat dilihat di http://www.tobadream.org. Nanti kalau sudah transfer, uang lae akan kami belikan bibit, kami tanami di lokasi tanah yang masuk dalam TCP (TobaDream Conservation Program). Lae bisa lihat laporan donasinya di sini. Sebelumnya, Mauliate!
Cerita yg bikin merinding. Mungkin saja kelak hal itu terjadi. Tapi bisa saja tidak terjadi. Setiap berlibur ke Tuk-tuk, hati ini miris melihat hutan sekitar danau toba yg makin lama makin gundul. Ingin bertindak tp bingung gimana caranya?? Coba lihat2 website WALHI koq kayaknya mereka jg “kurang” bergerak ke sekitaran Toba. Mudah2an lewat Toba Dream, bisa tersolusikan. Horas!
VIKY:
Kalo Mau Bertindak, gampang. Sekarang ada Lembaga TobaDream. Websitenya http://www.tobadream.org. Tanamlah pohon bersama kami. TobaDream menyalurkan dana para perantau dalam berupa penanaman pohon di Bona Pasogit. Kalo kamu mau nyumbang tinggal transfer ke sini. Segala donasi yang diterima TobaDream akan selalu dilaporkan secara umum di sini.
Hehehe, a cool science-fiction.
Okay, I’ll add to my budget list to give my donation to TobaDream every month. Since, I can’t join you directly, so for this time I only donate money.
Keep fighting Mr.Sianipar.
Cheers.
( ^ _ ^ ) V
wah … klo sampe rusak DanTob dan sekitarnya … apalagi yg bisa kita banggakan dari sana? apalagi berita bagus baru-baru ini, Danau Toba kita itu masuk nominasi dalam new 7 wonders.
@viky:
nice posting … keep it up bro !
[...] cerita dari Bang Viky mengispirasiku. Mudah-mudahan bisa menyadarkan kita dalam menghargai [...]
VIKY:
Tks bro. Salam kenal.
bang viky, kalo boleh jujur….. bang vikky sangat menginspirasiku….
jujur, sebagai orang batak karo asli, aku sering dengar lagu “PISO SURIT”, bahkan dari sewaktu aku masih kecil pun. Tapi selama itu aku menganggap lagu itu lagu biasa. Sampe aku dengar lagu “PISO SURIT” yang abang aransmen ulang di MTV sekitar tahun 2003 (kalo gak salah), aku benar-benar menangis ketika aku mendengar lagu itu. Aku baru sadar betapa dalam makna lagu itu, setelah aku mendegar hasil karya abang. Aku bersyukur sama Tuhan karena ada seseorang yang Tuhan percayakan untuk mengembalikan identitasku sebagai orang batak.
Bujur melala bang.
dari Daud Tarigan
di medan
VIKY:
Sama dek. Aku pun dulu gitu. Begitu aku tau ternyata budaya Batak (Toba, Simalungun, Karo, Angkola, Dairi, Pakpak) itu keren, aku langsung tobat. hehehe:) skarang gak malu lagi jadi orang Batak, malah bangga.
bang viky, aku hampir nagis baca ceritamu… aku percaya itu cuma sience fiksi….. tapi kalu kita gak berbuat sesuatu dari sekarang, maka nanti cerita itu akan menjadi kenyataan…. mari kita berjuang untuk anak cucu kita…..
masa depan mereka ada di pundak kita…..
VIKY:
Yup. Betul skali. Alam ini kita pinjam kok dari mereka (anak cucu kita). Jadi kalau barang pinjaman ya janganlah dirusak, kan mau kembaliin lagi nanti.
bang viky, boleh gak saya copy artikel ini untuk buletin kami (Ikatan Alumni Kristen Politeknik Negeri Medan). Rencananya kami terbitkan bulan 8 ini, salah satu yang kami bahas adalah masalah gobal warming…… saya rasa artikel ini akan sangat menyentuh pembaca buletin kami nantinya… karena hampir semua anggota kami adalah dari suku batak(toba, simalungun, karo, pakpak). Jadi sekalian semakin banyak yang akan terbeban untuk membantu untuk melestarikan alam, terkhususnya danau toba kebanggaan kita bersama.
Kalau di ijinkan, kami akan tetap mencantumkan identitas penulis dan sumber artikelnya….
saya tunggu tanggapannya ya bang……
muliate ma bang
bujur melala
VIKY:
Silahkan anggia. Selama untuk menyadarkan orang-orang yang berkampung disekeliling Danau Toba dan para pejabat tinggi, aku akan beri izin. Kalau boleh aku minta satu buletinnya. Mauliate, Bujur Mmelala.
Terimakasih lae, ceritanya asyik dan penuh arti sebuah masa depan terlebih bagi kita Masyarakat BATAK. Semoga masyarkat dan pemerintah kita peduli akan masa depan kita dan juga keturunan kita yang akan datang. UCAPAN TERIMKASIH LAE YANG SAYA RASAKAN BAHWA LAE (SANGAT) PEDULI DENGAN BONA PASOGIT KITA.
mantap2…smoga smua orang bisa nyadar akan pentingnya masa depan portibion…
horas…..
fiction story yang sangat mengerikan…..kiranya kita dapat menyadari dampak kerusakan lingkungan yang telah kita perbuat. wahai orang2 yang dengan seenaknya menebangin pohon, orang2 yang ngancurin tebing2 untuk ngambil pasir dan batu, perusahaan2 yang ngebuang limbahnya ke danau,sungai dan laut..sadarkah kalian bahwa alam ini bukan hanya untuk kita tetapi merupakan warisan turun - temurun dari nenek moyang kita sampai kelak ke generasi2 yang tak akan terhingga jumlahnya…kalau sekarang alam ini hancur apa yang akan dapat kita wariskan ke anak,pahompu,nini,nono, dan seterusnya….
save our forest, stop global warming…horas
horas lae.
kami pramuka deli serdang berencana melakukan reboisasi di danau toba.
dan kami pusatkan di taman eden 100, di daerah girsang.
apa lae dkk mau ikut ambil bagian?
VIKY:
Trimakasih bwt ajakannya. Namun kami juga masih fokus pada kegiatan konservasi kami di Samosir.