
Kakiku kaku, kulit mukaku mati rasa, tanganku keriput bersembunyi dibalik sweeter basah kuyup, seluruh tubuhku pasrah dengan dinginnya udara Samosir malam itu Walau penuh Lumpur, sepeda motor sewaan yang kendarai Tongam Sirait tetap laju di aspal jalan lingkar Samosir jam 12 malam. Aku hanya bisa berlindung di punggung Tongam sambil melihat layar GPS di genggamanku. Tuktuk masih 8 km lagi. Itulah perjalanan pulang yang sangat melelahkan dari Desa Partungkoan dalam rangka pembuatan Water Suplly System.
Negeri Diatas Awan
Desa Partungkoan adalah suatu tempat terindah di Samosir dengan ketinggian 1.656 meter diatas permukaan laut dan suhu berkisar 5 - 15 derajat celcius. Jika anda memandang ke arah bukit Samosir dari Tomok, anda akan melihat ada air terjun besar yang keluar dari tebing terjal bukit tersebut. Desa Partungkoan ini terletak 1.5 km dibelakang puncak bukit tersebut. Inilah salah satu permukaan tertinggi pulau Samosir. Desa ini mempunyai aura yang sangat berbeda dengan desa-dasa lain di Tano Batak. Di daerah inilah yang masih ada hutan pinus perawan pulau Samosir yang tinggal segelintir itu. Tidak semua orang pernah kesana, bahkan setiap penduduk Samosir pesisir yang kujumpai belum pernah menginjak desa tersebut setelah kutanya. Lebih parahnya lagi, mereka tidak mengenal nama Partungkoan ini. Karena jarang terjamah manusia, tempat ini seakan masih tetap tidak berubah sejak ratusan tahun yang lalu. Jadi bila anda ingin merasakan alam Samosir yang asli, disitulah tempatnya.
Bagaimana rasanya? Sangat sulit dijelaskan. Jika alam ini punya mimik muka, alam partungkoan seakan selalu tersenyum ceria. Karena lokasinya yang sangat tinggi, desa ini hampir selalu tertutup kabut yang seakan-akan menadikan desa itu berada di atas awan. Jarang terlihat langit biru disana, yang ada hanya langit putih diatas hijaunya pohon-pohon pinus dan gelombang bukit padang rumput hijau. Di pagi hari, Embun selalu menyelimuti hamparan bukit rumput luas yang membuatnya berkilau dimana-mana, bagaikan berlian yang berserak di rumput hijau.
Aura Spiritual pun terasa sangat kuat disana. Tak henti-hentinya aku terbawa untuk selalu mengucapkan puji-pujian pada Yang Maha Kuasa sambil mengagumi maha karnya-Nya ini.
Aku pertama kali datang ke Desa Partungkoan bulan Agustus 2007 secara tidak sengaja karena tersesat di tengah hutan pinus Samosir (baca: The Journey Part 2). Perjalanan tak terduga itu membuatku harus menginap di salah satu rumah penduduk di desa tersebut milik John Sitanggang br. Manik. Di depan rumah kayu sederhana itu terdapat halaman rumput luas, dikelilingi pagar kayu yang masih berkulit, dan terdapat juga kandang ternak di sisi kirinya. Di salah satu sisi halaman rumput tersebut ada bangku kayu panjang dibawah satu pohon pinus kecil bercabang dua. Ketika aku duduk di banggu tersebut, kurasakan seakan aku menyatu dengan alam Samosir ini. Perasaan “homey” yang tenang, berbunga-bunga, penuh cinta, mengalir di seluruh tubuhku. Seluruh alam disekitar tempat itu seakan tunduk padaku. Aneh memang, namun itulah yang kurasakan. Hatiku mengatakan bahwa ternyata disinilah tondiku berada, disinilah ia bermukim selama ini. Bangku kayu di bawah pohon pinus cabang dua inilah singasanaku yang sederhana ini.
Si tempat inilah kuucapkan janjiku pada tanah Samosir, “Dihongkop rohangku ho. Ndang loasonhu ho diarsaki halak, ndang hu loas ho sai tu matangis. Rap hita na dua, ndang holan saleleng ahu mangolu, ndang holan saleleng ni portibion, alai saleleng ni leleng na do”. (I will take care of you with all my heart. I will not let any body hurt you and make you cry. You and I will be together not only until I die, not only until the end of the world, but forever)
Tanggal 4 Maret 2008 kemarin, aku kembali datang untuk menepati janjiku. Ditemani teman-teman dari TobaDreamer: Charlie Sianipar, Marudut Pangaribuan, Tongam Sirait, Andree Widyantho, Bismark Sianipar (Bonny, abangku), dan tokoh LSM Limantina Sihaloho, untuk program “Water is Life” TobaDream yaitu pembuatan Water Suplly System. Ada problem apa rupanya disana? Penduduk disana harus berjalan satu kilometer menuruni bukit terjal dan menerobos semak ilalang tinggi hanya untuk mengambil air bersih dari mata air yang diberi nama Mual Roba. Dalam satu kali perjalanan ambil air, seseorang hanya akan mampu membawa satu buah ember atau jerigen besar lantaran beratnya medan yang dilalui. Itupun, biasanya, airnya tumpah tinggal setengahnya pada saat orang itu sampai lagi di rumahnya. Akibatnya mereka hanya dapat menggunakan air untuk minum, masak dan keperluan bayi. Mandi? Aduh.. entar dulu deh..
Partungkoan, Here I come again!
Mengingat medan berat menuju Desa Partungkoan dan juga hujan yang mengguyur Samosir sejak malam sebelumnya, kami menyewa 4 buah sepeda motor dari Tuktuk, tempat kami menginap. Jalan menuju Partungkoan dari Ambarita dan Tomok sudah tidak dapat dilalui kendaraan bermotor. Jadi kami harus masuk dari desa Polma di daerah Buhit. Kira-kira 6km dari Pangururan. Jarak dari simpang Polma ke Partungkoan 15km dengan jalan aspal, dan rusak berlubang pula, hanya sepertiga perjalanan. Sisanya merupakan jalan tanah berkerikil. Karena musim hujan, sesekali kami harus menenteng motor akibat jalan tanah itu telah menjadi lumpur. Di kilometer ke-13, sepeda motor terpaksa harus titipkan di rumah penduduk lantaran jalan yang akan dilalui sangat licin. Sisa perjalananpun harus dilanjutkan dengan berjalan kaki melewati hutan ekaliptus buatan PT. TPL yang dulu namanya Indorayon.
Aku berjalan paling depan. Jarak teman-teman yang lain makin lama semakin jauh tertinggal dibelakang. Apalagi Bang Charlie Sianipar, dia jauh tertinggal dibelakang karena sambil memikul tas punggung hitam besar yang berisikan peralatan photography-nya. Mungkin dialah orang yang paling tersiksa di perjalanan ini. Terus terang, di tengah-tengah perjalanan menanjak 2km itu aku hampir menyerah. Tapi ketika aku ingat lagi janjiku itu, semangatku bangkit lagi. Rasa letih itu berubah menjadi perasaan berbunga-bunga seperti kalau sedang jatuh cinta. Akhirnya, dikejauhan aku lihat pagar rumah Tulang John Sitanggang yang dikelilingi oleh padang rumput dan hutan pinus.
Jamuan Makan Luar Biasa
Kami tiba pukul 3 sore. Rasa letih karena perjalanan berat hilang seketika dengan sambutan hangat keluarga Sitanggang. Mereka senang sekali tak terbayangkan dapat melihat kehadiranku lagi. Kukenalkan teman-temanku satu per satu. ketika namboru br. Manik itu kukenalkan dengan Marudut dan mengetahui si Marudut ini marga Pasaribu, dia lansung memluknya sambil menagis terisak-isak, “oohh Bapakku…huu..huu..”. Begitulah memang besarnya kasih sayang dalam hubungan boru-bapak(hula-hula) di Samosir ini. Luar biasa memang dalihan na Tolu itu.
Kami Sangat terkejut, ternyata Namboru itu telah menyediakan lomok-lomok untuk menyambut kedatangan kami. Dia relakan memotong babi kecilnya untuk kami makan, sementara sehari-harinya mereka hanya makan nasi dan sepotong ikan asin. Air mataku tak terbendung lagi melihat sambutan mereka. Dengan perasaan serba salah kamipun memakan hidangan nikmat itu. Pikiranku langsung terjuju pada para Batak perantau yang selalu meng-claim bahwa orang di kampung tidak bersahabat, kasar-kasar, tidak punya moral, menaik-naikan harga dagangannya beberapa ribu rupiah seenaknya, perlu dirubah mentalnya, dan image jelek lainnya. Jengkel kali hatiku mendengar komentar-komentar tolol mereka. Mereka hanya dapat melihat sisi jeleknya. Mereka tidak tahu betapa tulusnya hati orang-orang Batak di Samosir ini. They are beautiful people.
Setelah makan, aku ingin sekali pergi ke mata air Roba, supaya dapat merasakan sulitnya orang ini cari air. Kami pergi ke lokasi mata air bersama dengan namboru dan parmaennya (menantunya). Dia membawa ember, seperti biasa. Ternyata, benar. Kami berjalan jauh melewati padang rumput, masuk menerobos ilalang tinggi, menuruni bukit terjal sampai nampak Mual Roba, mata air murni seukuran 4×4m dikelilingi semak hutan pinus. Airnya jernih, rasanya lebih nikmat dari produk air mineral pabrik manapun. Namboru dan parmaennya, boru Panjaitan, mengambil air dengan ember mereka dan meletakaan diatas kepalanya. Kami pun kembali pulang ke rumah Tulang Sitanggang dengan medan yang jauh lebih berat karena harus mendaki tebing terjal. Setibanya di rumah, nafasku sudah senin-kamis. Begitu juga para wanita perkasa itu, dengan ember diatas kepalanya yang airnya sudah bertumpahan.
“Beginilah susahnya kami setiap hari untuk mengambil air”, kata namboru itu.
Aku dapat merasakan betul penderitaan mereka. Boro-boro ada perhatian dari pemerintah, jalan rayanya saja hasil gotong royong masyarakat setempat. Jangan-jangan para aparat Bupati tidak mengetahui ada eksistensi mereka disana. Bagaimana tidak, air tidak ada, listrik tidak ada, puskesmas tidak ada. Sungguh menyedihkan. Padahal daerah tersebut merupakan surganya Samosir.
Sambil menunggu teman-teman TobaDreamer merekam gambar keluarga Sitanggang untuk kebutuhan film dokumentari kami, aku menyempatkan duduk di “singasanaku” dan bermeditasi sejenak. Kembali tak henti-hentinya aku berterimakasih pada Tuhan atas alam indah ini.
Terjebak di Hutan Lagi
Tepat pukul 6.30, kami pamit pulang. Limantina memutuskan untuk bermalam di sana. Baru saja 15 menit kami berjalan, hari mulai gelap. Hanya aku yang sedia dengan lampu senter mungil di tas punggungku. Untung saja aku punya dua. Kuberikan satu pada Bonny. Kami berdua berjalan di depan, yang lain mengikuti di belakang dengan jarak yang cukup dekat. Tak lama kemudian suasanya menjadi gelap total. Langit kosong tanpa bintang. Bulan mati. Jika lampu senter dimatikan, tak dapat dibedakan mata tertutup dengan mata terbuka. Sangking gelapnya. Dengan lampu senter mungil, jarak pandang hanya 2 meter. Hanya mampu menerangi tanah licin berlumpur yang akan kami pijak. Sesekali kami harus berhenti mencari tanah pijakan yang paling bersahabat. Beberapa kali kami memutuskan untuk berjalan di parit kering sebelah kiri/kanan jalan. Hutan di kiri-kanan nampak samar-samar dan sangat menyeramkan. Menurut Bonny, dia beberapa kali melihat sepasang mata bersinar di balik semak-semak hutan pinus.
Sekitar jam 9, kami sampai ke rumah tempat kami menitipkan motor. Rumah milik marga Sitanggang, boru Situmorang. Pemilik rumah tersebut menolak ketika bang Charlie menyelipkan uang 50.000 rupuah pada saat bersalaman dengannya. Benar-benar orang Batak Samosir ini tulus hatinya. Padahal uang sebesar itu sangat berarti bagi mereka di kampung.
Yang kami takutkan pun terjadi. Hujan Turun dengan derasnya walau beberapa menit saja. Komplitlah penderitaan kami. Jalan yang tadi kami lalui jadi tidak dapat lagi dilalui sepeda motor sambil boncengan karena licin sekali. Bayangkanlah keadaannya… Tongam, Andre, Charlie, dan Marudut harus mengendarai motor dengan medan sangat sulit, Bonny dan aku berjalan kaki sambil memegang lampu senter mungil untuk menerangi langkah kami. Kami terus berjalan tanpa mengetahui ada apa di depan kami. Sesekali para pendekar motor ini tergelincir berputar, dan jalan lagi. Kakiku pun beberapa kali menginjak genangan air yang dalam dan kotoran kerbau.
“Ambilah dan Makanlah…”
Setelah berjalan 1.5 jam, kami memutuskan untuk beristirahat. Kami mematikan semua lampu kendaraan dan lampu senter untuk berhemat bahan bakar dan baterai, duduk di rumput basah melepas lelah sambil bercanda.
“mimpi apa ya kita orang Jakarta bisa nyasar malam-malam di padang rumput Samosir..hahahaha”, canda Marudut,
“Iya ya, baru dua hari lalu kita ngobrol di kafe TobaDream Jakarta dengan hingar bingar musik, kontrasnya, sekarang malah tengah malam duduk di padang rumput samosir yang gelap gulita”, jawabku. Mereka tertawa terbahak-bahak.
Perut kami pun sudah mulai keroncongan. Padahal tak ada satupun dari kami yang membawa persediaan makanan. Disinilah kami rasakan pentingnya peranan ibu-ibu yang selalu sedia minuman dan cemilan pada saat traveling.
Ternyata Andree punya satu bungkus kecil coklat. Maka coklat itu dipotong kecil-kecil sehingga semua kebagian. Untung aku sempat memasukan air Mual Roba tadi kedalam satu botol aqua. Itulah yang kami minum secara bergilir.
“Ini seperti cerita Yesus yang membagikan roti lepada ribuan orang, tapi semua bisa kebagian” canda Bonny, yang diikuti gemuruh tawa kami.
Marudut pun menimpali, “Makanlah, inilah tubuhku yang dipecah-pecahkan….”, kamipun semua tertawa lagi.
Walaupun lelah, kami sangat menikmati kebersamaan itu.
Kami melanjutkan perjalanan lagi. Setelah setengah jam, akhirnya jalanan aspal itu kami dapati. Melihat jalan aspal itu, walupun rusak berlubang, kami bersorak sorai seakan sesuatu yang sangat langka. Apalagi ketika kami sampai di Polma, Jalan utama lingkar Samosir. Perasaanku lega sekali. Kami beristirahat lagi sejenak. Pinggangku seakan mau patah.
Penderitaan ternyata belum selesai. Kami harus mengendarai motor mengelilingi Samosir jam 12 malam dengan keadaan basah kuyup untuk sampai ke Tuktuk.
Pelajaran Berharga
Perjalanan ini sungguh tak terlupkan. Banyak hal yang dapat kami pelajari dari sini. Betapa masih banyak desa tertinggal di Bona Pasogit ini dimana tidak ada satupun yang perduli akan nasib penduduknya. Apakah kita, orang Batak perantau, sebagai saudara dekat mereka akan terus membiarkan mereka seperti itu? Haruskah mereka merantau ke Jakarta demi memerangi kemiskinan, mengadu nasib tanpa bekal kemampuan apapun, yang akhirnya kembali menjadi pengangguran di Jakarta?
Sementara kita, para Batak perantauan, menghabiskan uang jutaan rupiah dengan sekejap di kafe Batak dalam satu malam; Sementara Gereja-gereja yang tanpa gorga tapi tetap memakai nama etnik Batak itu berpesta Natal atau Paskah dengan biaya ratusan juta rupiah, dan bahkan asik berkelahi dengan sesama umatnya karena alasan yang sama sekali gak penting; Sementara Inang-inang ngomel karena kain seragam pesta pernikahan berenya(keponakannya) per meter dibawah 100.000 rupuah.
Jadi siapa sebenarnya yang perlu dirubah mentalnya, hai kawan!
bah adong dope hape pangaratto na mulak tu samosir ????
horas ma molo songoni,
hupikkir dang adong be puang. asal unang holan na liburan ma ate.
VIKY:
Ingkon ganup bulan ahu mulak do ba, asa ndang stress di Jakarta on. Molo ganup bulan lao tu samosir ndang liburan be judulnya ate.hehehe.
horas lae Vik,
agggaaaaaa yamang…menarik sekali lae pengalaman dan perjalananmu ke Samosir. Kapanlah aku bisa join…ehhhh taheeee. Keep up the good works lae..Gbu always!.
VIKY:
Bah, unang sungkun tu au ma. sungkun ho ma tu bossmi….. hehehe. Tanggal 1 April ini aku ke Partungkoan lagi.. dohot to ho? (mate ho..:) )
Seru kali perjalananmu Bang…
Tapi bagian paling menarik dari cerita ini bukan tentang perjalanannya (hehe.. maap ya), tapi tentang ketulusan hati orang Samosir sana.
Dua keluarga Abang temui, dua-duanya memberi secara tulus.
Langka kali sifat seperti itu di dunia ini sekarang….
VIKY:
Setuju, to. Kalau di Jakarta mgkn iya, tapi kalo di Samosir masih banyak, to… Ternyata parhuta-huta itu baik2 gak seperti prejudice yg dibuat para perantau slama ini terhadap mereka.. Yang katanya suka naikin harga lah.. kalau pun naik harganya paling beberapa ribu perak, apa lah artinya sribu perak buat para perantau, tapi image yg mreka bikin trhdp par huta2 ini udah kek koruptor di gedung DPR sana… heeh tahe!
Hi Pak Viky,
Tulisannya bagus banget
nambah “pengalaman” nih
Hallo Bang Viky Horas, Setelah aku membaca ketikanmu ini dan perjalanan Seketika aku terdiam dan takjub ,Oh May Gat dan ternyata Samosir itu luar biasa.dan aku ingin kesamosir jadinya.aku tunggu adaventure adventure bang viky yg begitu membuat aku takjub dan ternyata Bali kalah di banding samosir tapi kenapa semua diam dimana orang orang yang ingin membangun Samosir ini jadi kota wisata..Seketika aku takjub dengan ketikanmu bang dan Samosir yg dimana Masyarakat disana begitu tulus dan Lugu. I love Samosir
Viky:
Menjadi kota wisata… wah mimpi yang masih panjang kali ya, abisnya para pemimpinnya tidur melulu.. gak pernah mikirin hal ini. ATM aja gak ada disana. Gimana orang mau boros..
Mother earth! Your story reminds me of me being in Thailand on the beach at night on my own years back. Totally overwhelmed by the beauty and the energy around me, close to tears about the wonderful creation of the almighty. Walking seemed like flying, barefeet, sandals lost somewhere, didn’t matter, sitting down, lying down in the sand and just admiring quietly, wanting to be sucked in the sand and become one with that place, with earth, with the whole world…. “Mother, you mean so much too me, what can I do for you in my life?” Good to know, that it happened to Pikki too, feels like brotherhood. Horas ma ito.
Annette
VIKY:
Yup, that’s exactly what I fell to. But I don’t want to be sucked by sands.. Gatal do ba…. hehehe
Age gatal;!!!
Ma.. Ngeri kali ceritanya ito Viky ini seru pun. suatu saat aku pasti kesana Partungkoan!! walaupun belum pernah ke Samosir aku pasti datang, keramahan orang2 disana, keindahan pemandangannya, memang pantaslah Partungkoan itu disebut surganya Samosir. nang pe tubu dohot magodang di luat na asing iba, alai mudar on sai tong do mangkuling, mangarahon asamulak tu huta!! Orang Batak berbeda dari yang lain, aku bangga itu!!! aku tunggu cerita2nya Ito Viky dalam Journey2nya yang lain yang lebih seru dan berbeda. arahon ahu dohot da…. horas ma GBU
VIKY:
I ma tong, ito. Halak hita torus membanggakan tano na dao di portibi. Hape um bagak pe bona pasogit ta i. Alai nga sega, ditebangi jolma do angka hau i. Molo dang hita, ise ma na martapature i. Prinsiphu: Kau tebang satu pohon, Kami tanam dua pohon.
Horas Ito,
Aku terharu banget baca post yang ini. Apalagi dengan ketulusan warga2 di Patungkoan… Bagaimana kelanjutan programnya, Ito?
Aku belum pernah ke Partungkoan Ito, tapi lewat post ini, jadi banggaaaaa banget sama keindahan tanah Samosir yang masih virgin (walau belum pernah lihat, hehehehe)…
Ternyata Ito Viky bukan hanya jago aransemen musik aja ya, tapi juga seorang humanis yang nggak lupa sama kampungnya… Salut, Ito… Semoga jaya terus!
dear bung viky;
aku pertama kali liat vcd about toba 2003, bila temen ke ngirim vc “SAVE TOBA” dan baru nopember taon lalu bisa ke toba, parapat dan samosir. samosir….its heavenly kingdom to me…aku jatuh cinta pertama kali nyampe samosir and toba.aku dan temen ku juga sempat fotoan and the backgroundnya ‘the love waterfall’. nda nyangka di belakangnya d HIDDEN KINGDOM of Samosir.:) btw aku ke sana mei ini lagi dan pingin banget ke desa PARTUNGKOAN Bung Viky. Reading your experiences give me joy and perhaps pembaca yang lain juga. you are a good writer. keep up the good work. Ive a question: bisa nda nginap di desa PARTUNGKOAN? makasih.
VIKY:
Bisa. Di John’s Place. Milik John Sitanggang Br. Manitk. Tapi memang perlu jiwa besar sedikit karena tidak ada listrik dan kamar mandi.
Dear Bung Viky;
I hope, when samosir is made knoewn to the outside world, nda bakalan rame tourists yang ke samosir, menurut aku, when once rame tourists yang masuk samosir akan berubah,either to a positive or negative environment based on pengunjung2 nya. kalo tourists nya ke samsoir tuk menikmati anugrah Tuhan dan mau menjaga nya tehn, its ok, thats positive enough, but if visitors nya ke sana dan mencemari the natures of samosir, then everything is no longer natural, so lets hope that whoever visit samosir and other places, keep it the places natural as possible,remain as they are, bersih.i hope samosir will remain the same withs its natural beauty, thats all.
le’pleasure du texte (kenikmatan teks), istilah yang kuambil ini dikenal dalam teori roland barthes, seorang ahli semiotik dari prancis. sebuah teks yang nikmat memang harus mematikan pengarangnya. aku tahu, kalau viky sianpiar tidak mengarang teksnya ini untuk citra yang ada di desa partungkoan (samosir). bagiku ini bisa jadi bahan interteks ketika hampir dua bulan pada tahun 1990 tinggal di hutaginjang. juga dengan pulang pergi ke arah pohan - ambarita suatu sore dan lewat tengah malam. juga dua kali keliling naik sepeda motor melalui jalur sosor tolong, nainggolan, pangururan, dan kembali ke tuktuk. naik sepeda motor untuk kedua kalinya bersama teman-teman dari teater prung bandung dan PLOt setelah pentas “black box” di tuktuk, mei 2006. keliling samosir dari sosor tolong dan mendekati nainggolan kita akan menikmati pemandangan juga selain melihat situasi kemiskinan di kebanyakan pedesaan samosir atau tanah batak. lebih seratus tahun kekristenan masuk ke tanah batak, kamar mandi saja belum bisa dibangun karena sumber air untuk semua kamar mandi belum ada sponsor. (maaf, saya teringat kamar mandi lagi ketika acara tobadream, 3 maret 2008) di desa martoba simanindo tak ada, padahal itu acara itu di lingkungan aset gereja. ha ha ha… sayang sekali apa yang kubaca dari tema acara itu: pujilah tuhan dengan menanam pohon. ketika aku tersesak, aku terpaksa menyingkir ke bagian belakang gedung gereja sambil menyingkirkan hujan). kemiskinan itu mungkin saja masih bisa dikatakan suatu kegagahan.lalu untuk mengetahui kemiskinan itulah kami naik sepeda motor keliling samosir bersama teater prung sebelum menerima pukulan begini: bung, danau toba kalian sangat dahsyat. tapi koq bodoh kali kalian orang batak itu? maksud kalimat teman itu terkait dengan perhatian kita untuk mengelola potensi kekayaan kita. semangat yang saya sampaikan sebelumnya untuk meyakinkan mereka mengabaikan jalan-jalan yang rusak karena truk-truk indorayon atau toba pulp lestari, akhirnya mengeluarkan kalimat seperti itu. sebelumnya saya menyemangati mereka dari titik berangkat di tuktuk; kalau sudah pernah “membaca” che guavara, tantangan mengelilingi samosir dari jalur itu akan ringan. sampai muncul gagasan bikin panggung di tengah danau toba, kami tak ingin menggambarkan situasi kemiskinan yang kami lalui itu. kemiskinan itu mungkin tidak disukai. namun ketulusan dan kekayaan hati, pikiran, jiwa, kekuatan (tondi), dan gotong royong (marsiadapari) dapat mengubah kemiskinan itu sebagai mutiara, sumber air, kamar mandi, kebersihan (luar dan dalam) rumah, masyarakat, perantau, apalagi para pemimpin di tanah batak.
Beberapa orang,gambaran betapa mereka cintanya pada kampung halamannya Sumatera utara, salah satu kutipan tulisan seorang mahasiswa ITB yang pernah kubaca:
…………..
Karena sesuatu hal dia tidak dapat lagi tinggal dikota besar setelah lama mengabdi didaerah panas itu, teknologi maju, wire less, hari-hari yang bertemankan internet, menggunakan lift atau eskalator menuju ruangan ber AC tempatnya bekerja, penampilan keren, mengenakan kemeja ala parlente, tas kerja berisikan laptop, surat-surat transaksi diapitkan dengan tangan kanannya, berjalan kearah mobil sedan untuk beranjak kekantor.
Ternyata sesuatu hal itu juga, membuat dia kembali kekampung halaman dalam wujud mayat, dan menetap dalam kurun waktu yang lama pada tanah berukuran 2×3m yakni di kuburan, selamat tinggal dunia selamat datang akhirat, cacing dan bakteri sudah siap menunggu untuk melumat dengan lahap daging tubuhnya, mohon maaf Pematangsiantar, mohon maaf kampung halaman, mohon maaf ibu pertiwi, tak bisa bangkit lagi dari kubur transfer ilmu pengetahuan untuk anak-anak di kampung halaman, sungguh menyesal rasanya.
……..
Andai saja orang-orang yang cinta pada daerahnya, dapat berkumpul an melakukan sesuatu..
Lebih lengkapnya bang di:
http://luhut.wordpress.com/2008/03/05/generasi-tua-versus-generasi-muda-how-about-young-people-pematangsiantar/
Mansai mantap do jaha on sarita mon bah bang…
ai gabe taringot do iba tikki naik tu pusuk buhit,, tikki aning turun mardalan pat, sanga lilu puang…turun sian gijang i jam 7 pagim bah sahat ma tu aek rangat jam 2 siang..se mangaliati ma hami di aragan i…
amang tahe,,,molo se ni ingot2 i, ai sipata olo mekkel saddiri iba bag,,,
Lanjutkan trus perjuangan mu bang,,,
…HORAS…
GW PENGEN BISA BAHASA BATAAAAAAKKKK……!!!
baca cerita ini bikin makin rindu untuk pulang kampung dan kembali memandang tao toba dan samosir…. menetes air mataku…. rindu itu kian sesak kurasa….
to pikki…ingin rasanya gabung bersama kalian , tapi apa mungkin yah,,, karena tiap kali aku ke sana hal yang palign sulit bagi ku adalah memilih dan memilah makanan yang boleh ku mana…
aku tunggu crita2 mu yah to ttg samosir dan tao toba,,,ttg dreams of all tobadreamers…
VIKY:
Kak, sama kita. Aku pun kesulitan pilih makanan, karena aku semi-vegetarian. Tapi sekarang sudah banyak kok, restoran vegetarian di Tuktuk. Kalo di dolog, yah mau gak mau musti makan nasi dan ikan asin. Apa boleh buat lah. Kita syukuri aja apa yang ada.
hora lae,,
huta ta jonok do sian partukoan i,,
molo najolo au marmahan jonok tu si do,,
tepatna pangkohan..
manukkun lae,, marhua do lae tu si,,,
selain melepas rindu tu samosir
VIKY:
Horas Lae.. bah.. aha do goarna hutami? ala adong muse sada tempat favorithu jonok ni huta partungkohan i.
Mambuat pompa aek do hami di Partungkohan. Lengkapna jaha lae ma dison jala on
Mauliate
Bang,ise do i na i pudi na marbaju na birong i?
VIKY:
Begu sian Mall Ambasador…
Salut Buat lae…..Tuahn Yesus Memberkati..
mari bersama Kita bangun huta kita itu lae ku
HORAS……….
panangkohan, lae…
molo di sunkun lae parpartungkoan nungnga ibotoi,,,
najolo,, kompakdo dua desa i..
oh gambar satu pohon itu bagi saya sangat indah
luar biasa, saya tidak dapat menceritakan nilai seninya tapi itu sangat membuat saya harus mengcopy dan menjadikan backgraound pada desktop saya.photo anda bersama dengan dua ibu dan satu bapak di belakang, latar belakang photo ini sungguh indah.. kabut seolah olah kampung itu berada di angkasa, senyum mereka tanah dan kayu, semua sangat indah. ohhhhhhhhhhhhhhhh indahnya
horas ma di hamu sude angka dongan.
Horas lae,
Pengalaman lae mengingatkan saya akan perjalanan saya mengelilingi pulau Samosir 8 tahun yang lalu. Jalan ceritanya mirip-mirip lah, kami nginap di Tuk-Tuk dan rental motor. Perjalan dari Tomok naik keatas lewat Onan Rungu, Nainggolan, Palipi, Simbolon, Pangururan,Lbn SUHI-Suhi, Parbaba, Simanindo Ambarita dan kembali ke Tomok. Sama juga lae kena Hujan.Yang luar biasa View menakjubkan.Kami tidak mempunyai misi seperti Lae.Saya pernah sendirian naik motor dari Lbn Suhi-Suhi (1 km dari Buhit)tahun 1997 naik keatas Melewati Desa Haropokan, tujuannya ingin tahu ada apa diatas, ingin melihat danau dari kedua sisi dari puncak. Saya lewati jalan yang kondisinya sangat parah hingga berbatuan yang tajam yang menurut hemat saya akan beresiko ban pecah bila diteruskan, saya berpikir keras bagaimana kalau ban pecah ? tambal ban tidak ada, diperjalan sepi tidak ada orang? sementara saya sendiri naik motor tidak ada teman, jadilah saya mengalah pulang balik kembali.
Lae sangat beruntung bisa sampai keatas dari Buhit sebelumnya saya tidak mengetahui dari Buhit ada jalan keatas . Terima kasih lae penjabaran perjalannya yg sungguh mengasikkan
VIKY:
Memang banyak sekali yang bisa dijelajah di Samosir itu, juga daerah2 lain di Bona Pasogit. Bagiku gak ada habis-habisnya. Sungguh luar biasa keindahannya.
Nice adventure lae, kapan ke Samosir lagi?
VIKY:
Tiap Bulan
Bang, waktu aq ke kampung Limbong…
Aq juga pernah ke tempat pemandian yang namanya “si pitu dai”. Di situ pemandangan Danau Toba juga keren bang…
Airnya 7 rasa, tapi mengalir dalam satu aliran bang…;)
VIKY:
Menurutku, disana gak ada pemandangan Danau Tobanya, karena bukan di tepi tao. Bukan mengalir dalam satu aliran, melainkan dalam 7 aliran. Tapi sayangnya 6 pipa di tempat perempuan, 1 pipa di tempat laki-laki. Sekarang jadi tempat masyarakat cuci pakaian. Menyedihkan.
toba dream keren euy, tapi alangkah lebih baiknya lagi kalo kita bisa membangun manusia disekitarnya, terutama meninhkatkan daya beli mereka, sehigga tidak mengeksploitasi danau toba secara serampangan tanpa mempoerthatikan lingjugannya.misalkan melalui pembentukan koperasi produksi,pemasaran,atau ksp.dimana dana/modalnya berasal dari anggotanya,dikelola oleh anggota dan dinikmati oleh anggota juga dan masyarakat pada umumunya, karena ada korelasi antara prinsip koperasi dan dalihan na tolu.
bang gimana caranya wat joint di komunitas Toba Dream..saya sangat terharu baca semua tulisan abang..
mungkin inilah saatnya untuk ikut membangun kampung halaman..sekalian untuk menjelajahi alam samosir
oh iya bang mengenai yang abang bilang yang namboru boru manik langsung manghaol bang marudut itulah dalihan natolu itu…dan itu terdapat dalam lagu NOMENSEN..
i love so much this album
boleh…..,boleh juga,tapi jangan terlalu sering lah ke partungkoan kerumah si lae si Tanggang itu.kasihan kan,sangkin tulusnya/baiknya, habis pula anak ni pinahannya nanti.