Apakah dengan bangga jadi orang Batak berarti chauvinisme?
Chauvinism (pronounced /ˈʃoʊvɨnɪzəm/) is extreme and unreasoning partisanship on behalf of a group to which one belongs, especially when the partisanship includes malice and hatred towards a rival group. (wikipedia)
Kalau kita mendengar musik, kita akan mendapatkan banyak instrumen yang berbeda di dalamnya. Karana perbedaan itulah maka tercipta harmoni. Bayangkan dalam sebuah musik hanya terdiri dari 10 buah cymbal, atau 10 buah bass dengan patern yang sama. Tidak ada harmoni. Untuk menjadikan musik yang bagus pun, masing-masing pemain musiknya harus kuat, dalam arti dapat memainkan alat musiknya dengan baik. Pemain drumnya harus kuat, penyanyinya harus kuat, pemain gitarnya harus kuat, dsb. Bayangkanlah musik yang dimainkan para pemula. Biasanya hasilnya akan terdengar tidak indah, kordnya bersalahan, bahkan bisa-bisa terjadi pertengkaran antar pemain karena ketidaksamaan bahasa dalam musik. Tidak ada harmoni.
Kita harusnya beruntung sebagai warga negara Indonesia. Indonesia adalah negara yang paling memiliki keanekaragaman sukubangsa dan agama. Dengan keanekaragaman itulah akan terjadi harmoni, seperti halnya musik. Namun harmoni hanya akan terjadi di Indonesia jika masing-masing etnis memahami betul budayanya masing-masing. Si Batak kuat (dalam arti mengerti budayanya), si Jawa kuat, si Sunda Kuat, si Dayak kuat, dll. Harmoni juga akan terjadi jika masing-masing orang memahami betul ajaran agamanya. Si Kristen kuat (dalam arti mengerti esensi ajarannya), si Islam kuat, si Budha Kuat, si Hindu kuat, si Parmalim kuat, si Kejawen kuat, dll.
Sayangnya aku melihat sebagian besar orang Batak belum mengerti betul esensi budaya Batak. Banyak dari mereka yang menganggap budaya Batak hanya seputar peraturan pesta adat. Terus terang termasuk aku juga. Akibatnya di komunitas Batak sendiri saja sering terjadi pertikaian internal gara-gara kurangnya pemahaman akan paradaton. Sehingga dapat disimpulkan bahwa suku Batak di Indonesia ini belum kuat. Begitu juga dengan banyak suku-suku lain di Indonesia yang budayanya sudah ditinggalkan, bahkan ada yang sudah punah. Jadi bagaimana bisa mencapai Indonesia yang harmoni?
The Renaissance (from French Renaissance, meaning “rebirth”; Italian: Rinascimento, from re- “again” and nascere “be born”)[1] was a cultural movement that spanned roughly the 14th to the 17th century, beginning in Italy in the late Middle Ages and later spreading to the rest of Europe. (sumber: Wikipedia)
Bangsa-bangsa di Eropa maju akibat gerakan renaisance. Diawali di Italia dan menyebar ke negara-negara lain di Eropa. Pergerakan kembali ke budaya ini merubah paradigma orang-orang konservatif pada saat itu yang sangat taat pada kekuasaan gereja. Diawali oleh para seniman dan lama-kelamaan merembet ke bidang sains, politik, agama, dll. Setelah sekian ratus tahun, lihatlah hasilnya sekarang di Eropa. Karena akar budayanya kuat, mereka pun jadi maju. Bahkan kita orang Indonesia ikut-ikutan ingin jadi orang Eropa.
Jadi janganlah menganggap gerakan-gerakan “kembali ke budaya” di Indonesia merupakan gerakan chauvisme. Karena jika masing-masing etnis di Indonesia “kuat” (mengerti sekali esensi budayanya masing-masing, jika masing-masing pemeluk agama “kuat” (mengerti sekali esensi ajaran agamanya), percayalah, Indonesia akan menjadi bangsa yang ”kuat” juga, tercipta kerukunan agama, terjadi harmoni. Seperti Tuhan pun menciptakan segala sesuatu di alam semesta ini secara harmoni.
Jayalah Indonesiaku.
Sangat setuju dengan apa yang ditulis oleh si Pikki ini. Akhir-akhir ini aku sangat tergelitik dengan rencana Pemda DKI yang akan menjadikan daerah jalan Casablanka seperti Orchard Road di Singapura. Kenapa harus Orchard Road yang dicontoh untuk menarik wisatawan, padahal Jakarta sudah punya jalan Jaksa, daerah Kemang yang benar-benar telah terbukti mampu menjadi ikon wisatawan. Kedua daerah itu terbentuk dan mengakar dari budaya Betawi yang suka nongkrong di depan rumah. Di Bali juga demikian, semuanya berangkat dari akar budaya dan kearifan lokal budaya Bali.
Indentitas yang jelas membantu kita untuk mengeksploitasi nilai-nilai luhur yang ada dalam setiap etnis. Persatuan Indonesia juga dibentuk berdasarkan nilai-nilai suku yang ada di seluruh Indonesia. Kerapuhan yang terjadi sekarang ini justru karena kita telah menggeser secara perlahan budaya kita dan menggantikannya dengan budaya asing. Situasi ini bisa dianalogikan dengan orang yang tidak punya passpor sehingga dia dinyatakan stateless dan tempatnya adalah di karantina imigrasi.
Asal jangan cuma “Batak kuat makan” aja Lae..he 3x
horas ma jala gabe
kami dari ragidup yang merupakan brand pakaian berisikan grafis yang berkaitan dengan Batak.
Mulai dari sejarah, gaya hidup, budaya dan hal lainnya.
Ini merupakan sebuah usaha yang di lakukan kepada kaum muda Batak khususnya
untuk dapat mengenali, mempertahankan dan meneruskan unsur- unsur Bataknya,
dan kepada masyarakat luas pada umumnya untuk dapat mengenali budaya Batak.
Kita berharap semoga usaha ini dapat menjadi sebuah media yang dapat mempertahankan
artefak budaya Batak.
untuk dapat mengetahui lebih lanjut, dapat mengunjungi kami di
http://www.ragidup.wordpress.com
MAULIATE..
Itu Betul Viky. Toho do i.
Batak maju, Bali Maju, Papua Maju, Melayu Maju, Sunda Maju, Jawa Maju berarti Indonesia Maju, Tercipta harmoni.
Bila hanya Jawa yang maju dan sangat dominan berarti bukan Indonesia lagi namanya. Wayang lebih dominan dibanding kesenian lainnya.
Di DKI Jakarta, orang Batak saja tidak diperkenankan mencantumkan marga di Akte Kelahiran, itu pernah saya protes.
Orang Batak bukan seperti orang Jawa yang cukup hanya memiliki satu nama, seperti Suharto, Hartono, Sudirman dll. Ini juga jadi masalah yang harus diperhatikan.
@ Ragidup
Saya sudah lihat blognya, selamat. Terus Berkarya.
Penulisan bahasa batak dikaos itu SALAH.
Yang benar Tuak Tangkasan
Setuju!
Jadi bukan fanatisme yang membabi buta, tapi pengetahuan yang kuat akan prinsip yang dianut.
I believe people will be more loving and peaceful that way.
Bang Viky, tulisnya sering2 doonggg…
VIKY:
Waduh.. kalo aku nulis terus, namanya penulis dong, bukan musisi…hehehe:)
Menurutku, inilah tulisan terbaik Viky Sianipar dari semua tulisannya yg pernah di-publish, dari aspek substansi, sintaksis, dan alur tulisan. Tulisannya singkat, namun padat dan membuka wawasan lebih luas. Saya “khawatir” Viky lama kelamaan akan meninggalkan bidang musik dan akhirnya total mendalami dunia humaniora, terutama sejarah purbakala, lingkungan hidup, filosofi, astronomi, kebudayaan dan peradaban manusia, yang berujung pada pencarian makna kehidupan dan peran manusia di bumi ini.
Sepengamatanku, akhir-akhir ini tiada hari bagi Viky tanpa melakukan eksplorasi dan diskursus yang intens terhadap hal-hal yang disebut di atas, baik lewat pemahaman teks dan penggalian bahan dari berbagai sumber. Jujur, saya sering kewalahan dan tak siap ketika Viky mendadak menyodorkan pertanyaan atas topik-topik yang baru dijelajahinya–walau diam-diam mngaguminya, khususnya atas minat dan kegigihannya karena menurutku tak jamak bagi orang-orang muda urban sekarang ini, apalagi dalam kedudukannya sebagai musisi.
Saya semakin yakin bahwa Viky memang bukan cuma musisi atau arranger, tetapi juga paham alasan dan tujuannya memainkan musik, menggubah sebuah komposisi atau membuat aransemen baru, yang tak akan berhenti di sebuah titik pencarian bernama ’sukses’. Konsekwensinya, masih menurutku, Viky amat butuh dan akan terus membutuhkan orang-orang atau teman berbincang dari berbagai latar dan disiplin ilmu yang mampu memenuhi keingintahuannya dan dengan voluntary bersedia menemaninya menelusuri jalan pencariannya yang masih panjang itu. Saya berharap Viky akan semakin banyak menemukan orang-orang seperti itu, kalau tidak, suatu saat akan merasa teralienasi dari lingkungan dan dunianya sebagai musisi-seniman.
Sepemantauanku, para pengunjung blog ini cukup banyak yg cocok utk dijadikan kawan diskusinya, semoga saja kesempatan untuk mempertemukan mereka terjadi dalam waktu dekat.
Selamat mencari dan berkarya, Vik.
VIKY:
Mauliate ma abangku… Maklum lah bang. Aku ini lulusan SMA. Gak kuliah. Jadinya ngerasa bodo terus.:) Pingin belajar dari angka dongan sude. Terus terang sejak kubikin blog ini, aku jadi banyak belajar. Ternyata menulis itu belajar. Luar biasa. Apalagi dengan blog ini aku bisa belajar juga dari para komentator dengan masukan2nya yang dahsyat2. Mauliate ma tu angka dongan sude dison.
Hi..saya orang Jawa nich, pokoknya Horas dech Batak…
VIKY:
Matur Nuwun, mbak. Salam kenal.
Wah, testimoni yang mantappp dari Tulang Suhunan.
Beruntung banget Bang Viky bisa dapat teman yang mengenal dirimu sampai ke dalam2…
Go Viky! Kita mendukungmu!!
VIKY:
Sampai kedalam-dalam? ih.. sori ya, aku normal lho… hehehe :). Anyway mauliate da buat dukungannya. Bang Suhunan ini memang selalu teman diskusiku mengenai budaya Batak. Padahal aku yg ngefans sama dia. Dia itu seniman dan antropolog tulen yang hobinya jadi pengacara hehehe.
Salut, ito.
Musik batak baru ciptaan Viky memang renaissance di bidang musik. Berani kali ito maribakhon musik tradisional itu. Hsailnya - wow! I love it! Corny batak songs turned into pieces of art! Unpredictable tunes, instrument mixtures, harmonies…
Disamping itu juga renaissance di bidang “attitude towards other tribes”. Karena orang batak kebanyakan memang chauvinist banget. Jarang ada orang yang berharga lain dari “clan” sendiri dan donggan sahuta, karena kebanyakan prejudice dan ketakutan kepada “strangers”.
Viky buktikan orang dari suku lain bisa bermain dan bernyanyi musik batak, apa lagi di toba dream 3. Fantastic!
Forget chauvinism, go renaissance, bangso batak!
VIKY:
Bah.. mantap hian komentarmi, ito..
Ito Annette ini selebritis lho.. Seorang German ASLI yang sudah jadi boru Sialagan dan menetap di Tuktuk. Ito ini dan lae Silalahi (suaminya) punya hotel namanya TABO Cottage, the best cottage in Samosir. Dia fasih bahasa Batak, Aktif di paradaton, parsahutaon, dll. Dia sudah diinterview di Batak Post, Artista, Reader’s Digest, dll.
Ito Annette baru menemukan solusi masalah eceng gondok di Danau Toba, dan permasalahan mahalnya pupuk di samosir. Dia bisa bikin eceng gondok jadi pupuk. Wabah dan sampah bisa dibikin menjadi sesuatu yang luar biasa bermanfaat bagi masyarakat Samosir.
Salut kali aku sama ito. Go Success!
wah-wah-wah ternyata betul anggapan, bahwa seorang musisi memang tidak cuma bisa bikin dan main musik saja, ini sudah dibuktikan Bro kita Sianipar Viky ini. Dia sudah mulai bicara Renaissance.jangan khawatir Bro banyak komponis dunia juga menulis diantaranya Rimszky Karsakof, Karl off, bahkan ada yang dianggap filsuf kok, n Wagner menulis libretonya sendiri lho. Jadi gak ada masalahlah dengan jenjang pendidikan. persoalannya apakah setiap orang mempunyai keperdulian pada apa yang ditulisnya,akan terbaca juga dalam tulisan tsb. Bukan begitu Bro? Keep write for culture movement that we needed too Bro. HorasssS!
VIKY:
Musik itu bukanlah sekedar rangkaian nada atau frekuensi. Musik adalah fenomena Ilahi. Musik adalah supranatural. Tidak bisa dilihat, namun bisa dirasakan. Musik bisa menyetir hati mahkluk hidup (manusia, binatang, dan tumbuhan) untuk hal yang baik, dan bisa juga untuk menyesatkan mahkluk hidup. Musik dapat menyeimbangkan alam semesta ini. Musik bisa dipakai untuk perdamaian, bisa juga untuk perpecahan. Mari kita fokuskan musik untuk hal yang baik saja. Jika dikaitkan dengan filosofi kehidupan, musik akan semakin bernyawa, semakin hidup.
Dari komentar lae, kutengok Lae Jeffar telah mengerti akan hal ini. Sayangnya, tidak banyak orang yang mengerti hal ini apalagi dengan pesatnya perkembangan industri musik “pasaran” di Indonesia ini. Salut buat lae!
ya Lae Viky aku juga senang kok baca tulisanmu Lae, apa lagi musikmu yang memukau anak-anak muda Batak yang keren{Batak yang mempunyai visi/misi membangun mimpi bersama-sama}Pantaslah aku mengacungkan jempol Two thumbs up for you Man ! Sebab bukan waktunya lagi kita mempermasalahkan soal-soal tehnis, akan tetapi permasalahan yang lebih besar. Permasalahan Lingkungan Hidup, masalah pendidikan, Ekonomi, Politik, dan banyak lagi hal lain yang tercakup dalam BUDAYA. Tanpa semua itu musik hanyalah hiburan belaka. Padahal yang di butuhkan adalah Renaissance{pencerahan} dalam semua bidang bukan begitu Bro?
toba dream it’s great, amazing
toba drean bukan hanya musik, dan sekarang bukan hanya milik bang vicky aja, tapi menjadi milik masyarakat batal pada khususnya dan ini bisa/akan menjadi sebuah gerakan sosial, budaya,lingkungan.apa ada sebuah organisasi/yayasan/lsm yang telah/akandibentuk untuk mendukung program toba dream??? bt bona pasogit atau no.rekening, sehingga orang batak baik perorangan/organisasi/pungguan marga dapat menyumbangkan danannya bagi pelestarian budaya,music,lingkungan.dan dapat dibentuk kesekretariatan disetiap provinsi dimana banyak batak perantauan. hal ini akan dapat menjadi waadah bagi generasi muda batak ngumpul, belajar ngobrol dengan bahasa batak. karena jika bahasa batak tidak bisa, maka generasi muda akan sulit untuk memahami budaya batak dengan segala bentuk,warna,dan fungsi budaya tersebut.
VIKY:
TobaDream adalah komunitas orang2 Batak maupun non-Batak yang perduli pada musik, budaya Batak dan lingkungan Danau Toba. Bentuknya Lembaga. Rekening donasi juga sudah tersedia.
Untuk detailnya silahkan lihat-lihat di http://www.tobadream.org.
Mauliate
Memang benar kita harus mengerti esensi agama kita. Bukankah dalam agama kita diwajibkan untuk menjaga bumi beserta isinya, dimana di dalamnya termasuk juga unsur budaya. Agama jg mengajarkan kita untuk menghargai setiap perbedaan yang ada. Janganlah kita terlena untuk menganggap suku kita yg paling hebat dibandingkan dgn suku lainnya. Ketika kta menyadari bahwa Tuhan-lah yang menciptakan berbagai suku di muka bumi ini, maka kita akan mampu mengerti bahwa semua suku dengan budayanya masing2 sebenarnya saling melengkapi dan saling memperkaya antara satu sama lainnya.
Tulisanmu bagus vik, sekarang aku mengerti kenapa aku merasa musikmu kaya dan punya jiwa. Karena kamu mau belajar membuka hati dan pikiranmu terhadap esensi budaya dan agamamu. Keep up your good work, i wish you the best there is!
kuat saja tidak cukup, bang.
untuk menciptakan suatu harmoni diperlukan sinergi dari unsur-unsur yang ada.
ibaratnya musik juga, tidak cukup pemain instrument2nya hanya bermain dengan bagus. tp harus ada kordinasi yang baik antar pemain.
http://lacapitale.wordpress.com/
VIKY:
Setuju. Tentu kuat yang dimaksud disini termasuk dapat bersinergi dengan suku lain.
horas..
goarna pe daamang songon tabo ni tarutung i..
marsaringar do di luat portibion..
unang talupahon..akka tona2 natua2 namalim najolo..
akka na lambok do i..akka na lambas maroha do i..akka naburju do i
i do uhum na ummarga di portibion
marsiamin-aminan songon lampak ni gaol, marsitungkol-tungkolan songon suhat di robean
beta dongan..rap hita maridi aek sitio2 i..
beta dongan..tading hon hamu majo ulos munai..rap hita marende..sada ma hita..dos ma rohatta..tapuji ma tuhani..baen ende baen gondang..beta dongan..!!
Let us live in harmony. All the best!
pemikiran yang brillian,terus berkarya viky,
salam dari kami fansmu di tembagapura, papua.
HORAS dan setuju lae
apa sih kurang nya kita sebagai orang batak
hampir di seluruh wilayah indonesia ini orang oranG batak punya tempat yang baik dan berpengaruh.
HIDUP BATAK
Emma tutu…. Luar biasa… humanisme dan universal
Satu lagi.. tulisan ini menunjukkan penulis sudah memiliki Paradigma inklusif… bahkan sudah menghayati dan melakukannya dalan keseharian terlihat dari karya-karya dan dari semuanya dehhh Horas Lae… Salutttt
Totally agree with you..!!
“wow amazing” itu kata pertama yg saya ucapkan begitu dgr n liat konser bang viky via vcd. that really amazing. Blm ada org indonesia yang menggubah musik daerah segitu hebatnya. Salut buat bang viky yg bener2 make talenta buat hal yg luar biasa.
Musikmu bener punya, jiwa, harmoni yang luar biasa. Ga gampang di lupain, bener2 berkarakter. jujur, setiap hari saya mendengar musikmu bang. hehehe. Yah walo awalnya dapte download dr temen, tp akhirnya begitu nemuin cdnya. antusias plus girang banget
Terus nulis juga ya bang. Ternyata selain punya sense of music yang luar biasa, abang juga bisa di andalkan dlm menulis. Tapi aku yakin ini krn usaha abng yg selalu mendalami buda batak kita tercinta. Saya jd tau banyak ne ttg budaya kita yg indah ini.
Bang, bikin generasi muda kita yg tadinya suka rnb, retro, punk, jadi terperangah denger musik daerah sendiri.
Bravo….
Bang aku lupa tanya. kapan abg mampir konser di batam. Please bang, anak2 muda di batam antusias skl dengan yg namanya entertainment, apapun bentuknya. Please pikiran rencana untuk konser di batam, Saya bersedia bantu kalo di perlukan. Mungkin untuk survai atau mengalang massa anak2 muda. Itu kalo di perlukan loh bang. Mimpi saya, abg n Toba Dream bisa konser disini. Sedikit promosi, dari Batam abg bisa langsung ke S’pore or Malay utk refreshing. Hehehe
VIKY:
Belum ada skedul ke batam tuh… tar kalo ada pasti dikabarin lwt website.